Media Untuk Pembelajaran Anda

Media Referensi dan Pembelajaran yang disajikan secara menarik dan mempunyai keilmuan yang tidak di ragukan lagi keberadaanya - Junaidi Pandanwangi Soko - Tuban - Jawa Timur 085257958985.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Media Sarana Pembelajaran

Media Referensi dan Pembelajaran yang disajikan secara menarik dan mempunyai keilmuan yang tidak di ragukan lagi keberadaanya - Junaidi Pandanwangi Soko - Tuban - Jawa Timur 085257958985.

Tampilkan postingan dengan label MATERI PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2010

KONSEP DIRI


Konsep Diri

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar istilah konsep diri. Konon ada lebih dari 15 istilah yang bisa ditemukan dalam literatur untuk konsep tentang diri. Ada yang menyebut konsep diri, ada yang menyebut harga diri (self-esteem), ada yang menyebut nilai diri (self-worth), dan ada pula yang menyebut penerimaan diri (self- acceptance). Akan tetapi, ada pula yang membedakan istilah harga diri dengan konsep diri, dengan memandang konsep diri merupakan bagian dari harga diri dan harga diri merupakan konsep diri yang bersifat umum. Untuk kepentingan kegiatan belajar kita, kita gunakan saja istilah konsep diri.

Dengan konsep diri ini, kita bisa membayangkan bagaimana kita becermin untuk mengetahui siapa sesungguhnya diri kita. Menurut Rakhmat (1985:124) menjelaskan proses becermin diri itu melalui tahapan-tahapan berikut ini.

· Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain.

· Kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita.

· Ketiga, kita mengalami rasa bangga atau kecewa pada diri kita sendiri.

Sebelum beranjak lebih jauh, ada baiknya kita merumuskan dulu, apa yang dimaksud dengan konsep diri. Debes merumuskan konsep diri dengan mengutip Devito, “merupakan gambaran siapa diri kita sebenarnya.” Menurut Debes, konsep diri bisa juga dinyatakan sebagai keseluruhan gambaran tentang diri kita. Maksud keseluruhan gambaran di sini mencakup diri psikologis, diri fisik, diri spiritual, diri sosial, dan diri intelektual. Dengan demikian, konsep diri merupakan persepsi kita pada bagian-bagian tadi untuk dipadukan dan membentuk keseluruhan gambaran. Penting diingat, konsep diri ini bukan pandangan orang lain pada kita melainkan pandangan kita sendiri atas diri kita.

Sedangkan William D. Brooks (dalam Rakhmat, 1985:125) menyebut konsep diri sebagai “persepsi-persepsi fisik, sosial, dan psikologis atas diri kita sendiri yang bersumber dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain”. Berdasarkan definisi dari Brooks tersebut, kita bisa menguraikannya sebagai berikut.

1. Persepsi fisik, yang berkaitan dengan bagaimana kita mempersepsi diri kita secara fisik. Apakah kita ini termasuk orang yang tampan/cantik, biasa-biasa saja atau jelek? Apakah badan kita terlihat gagah atau tidak menarik?

2. Persepsi sosial, yang berkaitan dengan bagaimana pandangan orang lain tentang diri kita. Apakah kita ini termasuk orang yang mudah bergaul, cenderung menyendiri, disukai orang lain atau orang yang ingin menang sendiri.

3. Persepsi psikologis, yang berkaitan dengan apa yang ada pada “dalam” diri kita. Apakah saya ini orang yang keras pendirian atau keras kepala? Apakah saya termasuk orang yang berbahagia karena apa saya bahagia?

4. Pengalaman, yang terkait dengan sejarah hidup kita. Sejak mulai kita dilahirkan hingga usia saat ini tentu mengalami berbagai hal yang berpengaruh pada diri kita. Misalnya, kita menjadi keras kepala karena sering diperlakukan sebagai anak yang berada pada pihak yang kalah.

5. Interaksi dengan orang lain, yang terkait bagaimana lingkungan pergaulan kita akhirnya membentuk persepsi kita atas diri sendiri. Apa yang dialami Sumadi di atas menunjukkan bagaimana interaksi dengan orang lain akhirnya membentuk persepsi psikologis bahwa dirinya termasuk orang yang tidak bisa bekerja.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa melihat bahwa konsep diri itu ternyata bukan sekadar persepsi kita atas diri sendiri. Karena di dalamnya ada juga unsur penilaian. Misalnya, saya cantik/tampan atau saya bodoh/pandai merupakan penilaian. Kita menilai diri sendiri berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Pasangan persepsi dan penilaian terhadap diri sendiri ini penting untuk diperhatikan. Oleh karena kedua hal itulah yang akan mempengaruhi bagaimana kita mengalami kehidupan ini dan berinteraksi dengan orang lain. Lebih dari itu, penilaian akan terkait dengan standar penilaian yang dipergunakan. Barangkali kita membuat standar cantik/tampan itu berdasarkan apa yang kita lihat dalam sinetron di televisi sehingga kita kemudian mempersepsi diri kita tak cantik/tampan karena tak seperti mereka yang tampil dalam sinetron itu atau kita kemudian berusaha meniru dandanan dan potongan rambut, seperti artis sinetron itu agar kita bisa disebut sebagai cantik/tampan.

Dalam konsep diri tergabung beberapa dimensi tentang diri. Mengingat di dalamnya ada 4 (empat) dimensi dasar konsep diri. Keempat dimensi konsep diri tersebut, menurut Allen (2000) terdiri atas

1) konsep diri aktual,

(2) konsep diri ideal,

(3) konsep diri pribadi (private), dan

(4) konsep diri sosial.

Selanjutnya, kita bahas keempat dimensi konsep diri tersebut. Kita awali dengan konsep diri aktual. Konsep diri ini dapat dinyatakan sebagai persepsi yang realistis terhadap diri kita sendiri. Ada juga yang menyatakan, konsep diri aktual itu adalah persepsi atas siapa diri kita saat ini. Konsep diri aktual juga merupakan persepsi nyata kita pada diri kita sendiri dan persepsi yang saya gambarkan pada orang lain, seperti status sosial, usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Ketika kita menyatakan, misalnya “saya mahasiswa UT semester 3” maka kita sedang mengungkapkan konsep diri aktual kita.

Konsep diri ideal merupakan persepsi seseorang atas dirinya harus seperti apa tampaknya. Ketika kita memutuskan untuk meneruskan pendidikan di Universitas Terbuka ini merupakan keputusan yang berupaya untuk menunjukkan konsep diri yang ideal. Dengan konsep diri ideal itulah kita berusaha dan berjuang untuk terus memperbaiki kemampuan dan kehidupan kita. Usaha memperbaiki dan meningkatkan itu bisa dilakukan dalam bidang pekerjaan, keterampilan atau pendidikan. Tindakan-tindakan yang kita lakukan itu bisa dipandang sebagai upaya untuk mendekatkan pada kondisi yang mendekati konsep diri yang ideal tadi.

Allen (2000) menulis bahwa individu biasa membandingkan konsep diri ideal itu dengan nilai konsep diri aktualnya. Oleh karena manusia pada dasarnya ingin agar konsep diri aktualnya memiliki karakteristik yang sama atau mendekati konsep diri idealnya. Apabila kedua konsep diri ini berjauhan maka individu akan berupaya untuk mencapai konsep diri yang ideal. Misalnya, mengikuti pendidikan lanjutan di Universitas Terbuka karena kita mengidealkan konsep diri yang baik itu antara lain diwujudkan dalam bentuk bisa menyelesaikan pendidikan S-1 atau memiliki gelar sarjana.

Konsep diri pribadi (private) merupakan gambaran bagaimana kita menjadi diri kita sendiri. Kita berusaha untuk menunjukkan bahwa kita bertindak sebagai orang yang ramah, bersahabat, kreatif atau menyukai tantangan. Misalnya, dalam konsep diri pribadi kita digambarkan diri kita menggemari tantangan sehingga mengikuti pendidikan ilmu komunikasi di UT. Kita merasa tertantang untuk menggeluti disiplin ini karena banyak diperlukan di dunia kerja atau mendekatkan kita pada dunia yang kita dambakan yakni berkecimpung dalam karier sebagai profesional komunikasi.

Konsep diri sosial pada dasarnya berkaitan dengan relasi kita pada sesama. Kita ingin agar orang lain memandang kita sebagai orang yang cerdas, menarik, baik hati, peduli pada nasib orang atau memiliki kemampuan menjalankan tugas-tugas pelik. Keinginan kita untuk menjadi seperti itu merupakan wujud konsep diri sosial. Dalam konsep diri sosial ini tercermin bagaimana kita ingin dipandang oleh orang lain sebagai bagian dari satu kelompok masyarakat.

Dengan demikian, konsep diri merupakan satu proses. Ini merupakan bagian dari diri kita dalam proses menjadi (becoming). Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan informasi. Dalam Kisah Sumadi di atas, informasi itu terkumpul dari komentar, kritik, dan saran rekan-rekan kerjanya. Informasi yang terkumpul tersebut pada dasarnya merupakan pengalaman yang kita lalui dalam kehidupan. Selanjutnya, kita memberi makna, maksud atau sifat tertentu pada pengalaman tersebut. Inilah yang kemudian membentuk kesan dalam diri kita. Berdasarkan kesan itulah kita pun mempelajari siapa diri kita, siapa orang lain, dan bagaimana dunia ini. Siapa diri kita itulah yang kemudian menjadi konsep diri kita.

Ada dua kelompok yang dianggap mempengaruhi konsep diri kita.

· Pertama, orang lain yang kita anggap penting atau biasa dinamakan the significant others. Sepanjang hidup kita, selalu saja ada orang yang kita anggap penting dan berpengaruh pada diri kita. Pertama-tama, jelas, orang tua kita. Semua manusia akan memandang penting orang tua sehingga orang tua bisa dikatakan sebagai pemberi pengaruh yang pertama dan utama bagi pembentukan konsep diri kita. Ketika mulai memasuki usia TK, kita mengenal significant others lain, biasanya guru. Begitu seterusnya, sepanjang hidup kita bertemu dengan orang-orang yang kita anggap berpengaruh besar pada diri kita.

· Kedua, kelompok acuan (reference group) yang memberi arahan dan pedoman agar kita mengikuti perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku dalam kelompok tersebut. Ini terkait dengan salah satu sifat manusia yang selalu hidup dalam kelompok. Tidak ada manusia yang hidup menyendiri, kecuali karena terpaksa. Semua manusia membutuhkan orang lain. Kelompok-kelompok tersebut kita ikuti secara sukarela. Kelompok acuan itu mempengaruhi pembentukan konsep diri kita. Misalnya, kelompok pecinta alam yang kita ikuti, kelompok penggemar motor tua, dan kelompok yang memiliki hobi yang sama. Semua itu akan memberi pengaruh pada pembentukan konsep diri.

MELATIH TANGGUNG JAWAB


Tanggung jawab dapat diartikan dengan “bertindak tepat tanpa perlu diperingatkan.” Sedangkan bertanggung jawab merupakan sikap tidak tergantung dan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Sifat dapat diserahi tanggung jawab seseorang akan terlihat pada cara ia bertindak dalam keadaan darurat dan cara ia melakukan pekerjaan rutin-nya. Sebenarnya itu tidak merupakan sifat tetapi sikap yang telah men-cakup sifat memperhatikan, ketelitian, kecakapan, dan Iain-lain. Umumnya sifat demikian tidak diturunkan dari orang tua melainkan sesuatu yang dapat dilatih.
Jelasnya, pengertian tanggung jawab di sini adalah kesadaran yang ada dalam diri seseorang bahwa setiap tindakannya akan mempunyai pengaruh bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Karena menyadari bahwa tindakannya itu berpengaruh terhadap orang lain ataupun diri sendiri, maka ia akan berusaha agar tindakan-tindakannya hanya memberi pengaruh positif saja terhadap orang lain dari diri sendiri dan menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan orang lain ataupun diri sendiri. Dalam keadaan yang kepentingan diri sendiri harus dipertentangkan dengan kepentingan orang lain, maka seorang yang bertanggung jawab akan berusaha memenuhi kepentingan orang lain terlebih dalu.
Sebenarnya kemampuan anak tidak hanya berkembang secara fisik, sebab secara psikologis pun setiap anak akan memperkembangkan rasa tanggung jawab seiring dengan perkembangan emosi dan sosialnya. Makin besar anak, rasa tanggung jawabnya terhadap lingkungan sekitar pun semakin berkembang. Namun, tentu saja semuanya mem-butuhkan rangsangan, agar potensi yang telah ada berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan. Caranya adalah dengan memberi banyak latihan dan bimbingan yang membutuhkan banyak kesabaran.

Salah satu ciri dari perkembangan emosi dan sosial pada anak adalah adanya rasa tanggung jawab yang lebih besar. Berkembangnya rasa tanggung jawab ini ditandai dengan usaha serta jerih payah anak untuk melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar. Setiap langkah serta sikap yang mereka ambil hampir dipastikan selalu telah melalui perhitungan yang masak. Semua ini mereka lakukan dalam usaha untuk mewujudkan citra diri yang baik guna memenuhi harapan-harapan orang tua terhadap mereka.
Menanamkan rasa tanggung jawab sebaiknya dilakukan dengan memberi contoh konkrit. Kalau orang tua seenaknya membuang pun-tung rokok atau kulit pisang sembarangan, segala nasihat atau anjuran tidak akan ada hasilnya. Orang tua ada-lah cermin bagi anak-anak dan contoh yang paling dekat untuk ditiru.
Dari sikap dan tingkah laku orang tua, anak secara berangsur-angsur belajar untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Ini berarti anak perlu belajar bahwa apa yang dilakukannya itu mempunyai konsekuensi yang sesuai maupun tidak. Misalnya, anak makan lambat sehingga terlambat datang ke sekolah. Dan kemudian orang tua sengaja tidak menyuruhnya cepat-cepat menghabiskan makanannya serta mem-biarkan ia dimarahi guru atas keterlambatannya itu. Apa yang dilakukan orang tua ini sudah merupakan salah satu cara untuk menga-jarkan anak bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya.
Menjadi orang tua, memang dituntut suatu sikap serta tanggung jawab yang besar juga. Dalam usahanya untuk menjadi tokoh yang dikagumi, sehingga anak-anak meniru mereka, ia tidak hanya meniru apa yang dilihatnya, ia juga mengambil alih perasaan-perasaan orang tua dan mengidentifikasikan diri dengan mereka. Sikap orang tua ini akan meresap dalam kalbu anak dan anggota keluarga yang lain. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengutamakan gotong-royong untuk kepentingan bersama nanti akan menunjukkan sikap bertanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungannya.
Kebanyakan anak ingin melakukan sesuatu dengan benar. Di sam-ping itu mereka juga ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Tetapi, sikap tidak percaya yang ditampilkan orang tua atau orang dewasa lain-nya dengan sekejap dapat mematahkan semua keinginan anak tersebut.
Pada hakikatnya kepercayaan orang tua merupakan sumber keper-cayaan diri anak. Jadi, apabila orang tua percaya pada usaha anak dan bahwa anak bisa menampilkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan, maka anak pun akan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Namun, bila anak merasa bahwa orang tua mereka tidak memper-cayainya, anak akan merasa terombang-ambing. la tidak akan memiliki rasa percaya diri bahwa ia akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Ini pula yang membuat anak seperti tidak bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya.

Di dalam berbagai hubungan, orang tua tidak patut menuntut terlalu banyak dari anak. Tidak patut menganggap si anak sebagai orang dewasa, yang sudah patut menerima tanggung jawab yang lebih besar. Betapapun, si anak harus diperlakukan sebagai anak sesuai dengan kesanggupannya, menyesuaikan tanggung jawab itu sesuai dengan usia dan kemampuan fisik dan mentalnya. >n~:i~ bnf
Acap kali orang tua salah memberi tanggung jawab kepada anak di rumah, tanpa memikirkan akibat-akibat yang mungkin timbul, mereka memaksakan si anak melakukan tugas yang sebenarnya belum dapa; diselesaikannya. Hal seperti ini membuat si anak merasa kuatir tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Kekuatiran semacam ini dapat membahayakan perkembangan kepribadian anak.
Kita seyogianya menyadari, bahwa setiap anak dalam suatu keluarga merupakan pribadi-pribadi unik. Masing-masing berbeda secara individual, baik dalam perkembangan maupun kepribadiannya. Oleh sebab itu jenis tugas yang sama belum tentu dapat diselesaikan dengan hasil yang sama baiknya oleh setiap anak. Misalnya saja, saat Elis berusia 5 tahun ia telah mampu rserapikan tempat tidurnya sendiri, suatu prestasi yang belum dapat dicapai saudara-saudaranya sampai beberapa waktu kemudian. Tidaklah bijaksana untuk membanding-bandingkan kemampuan anak yang satu dengan yang lain dalam keluarga. Usia bukanlah satu-satunya faktor yang dapat dijadikan bahan perbandingan. Ada faktor lain yang menunjang kemampur i mereka untuk dapat menyelesaikan suatu tugas tertentu, misalnya faktor ketelitian. Namun secara umum, tahapan usia tetap dapat dipakai sebagai patokan dasar.
Anak yang biasa dihadapkan pada keadaan yang penuh tantangan akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih besar. Di samping itu ia akan lebih berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam tugas-tugas rutin kehidupan keluarganya maupun sekolah. Dengan memberi kesempatan pada anak untuk ikut bertanggung jawab berarti secara tidak langsung orang tua mengatakan pada anak, “Ayah percaya kepadamu” atau “Ibu percaya kamu akan mengambil keputusan yang benar.”
Rasa tanggung jawab bukanlah hal yang dapat diletakkan pada seseorang dari luar. Rasa tanggung jawab tumbuh dari dalam, men-dapatkan pemupukan dan pengarahan dari nilai-nilai yang kita hirur dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasa tanggung jawab yang tid- . bertumpu pada nilai-nilai positif, dapat berubah menjadi sesuatu yang asosial dan destruktif
Berbicara mengenai tanggung jawab ini, Dr. Haim G. Ginott, dalam bukunya “Between Parent and Child” berpendapat, rasa tanggung jawab sejati harus bersumber pada nilai-nilai asasi kemanusian: hormat kepada hidup sesama manusia, kebebasan, dan pencarian kebahagiaan. Namun kita jarang melihat masalah tanggungg jawab dalam kerangka yang lebih luas itu. Kita cenderung untuk melihat rasa tanggung jawab dari segi-segi yang kongkret: kamar anak bersih atau tidak; anak sering terlambat datang ke sekolah atau tidak; bagaimana dengan pekerjaan rumahnya; bagaimana dengan latihan tarinya; tingkah lakunya sopan atau tidak dan sebagainya.
Sesungguhnya, sebagaimana sering dikatakan para ahli, bahwa anak harus belajar bertanggung jawab atas empat hal. Mainannya, pakaiannya, binatang peliharaannya dan yang terpenting dirinya sendiri. Sebaiknya tanggung jawab diajarkan sedini mungkin. Karena makin terlambat tanggung jawab diajarkan, makin sulitlah baginya kelak untuk memikul tanggung jawab itu. Dan, orang tualah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam hal menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.
Sumber buku Komunikasi Orang Tua dan Anak Karya Alex Sobur

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Self-disclosure


Menurut Joseph A. Devito adalah sebagai berikut.
1.Efek Diadik
Pada bahasan di atas sudah kita tegaskan bahwa self-disclosure itu bersifat timbal balik. Oleh karena itu, keterbukaan diri kita yang ditanggapi dengan keterbukaan lawan komunikasi yang membuat interaksi antara kita dan lawan komunikasi bisa berlangsung. Keterbukaan diri kita mendorong lawan komunikasi kita dalam komunikasi atau interaksi di antara dua orang (dyad) untuk membuka diri juga. Inilah yang dinamakan efek diadik itu
2. Ukuran Khalayak
Tadi juga kita sudah membahas, self-disclosure itu merupakan salah satu karakteristik komunikasi antarpribadi. Oleh karena itu, self-disclosure lebih besar kemungkinannya terjadi dalam komunikasi dengan khalayak kecil, misalnya dalam komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok kecil. Alasannya sederhana saja. Jika khalayak komunikasi itu besar jumlahnya maka kita akan sulit mengontrol dan menerima umpan balik dari lawan komunikasi kita. Apabila khalayaknya kecil saja maka kita bisa mengontrol situasi komunikasi dan bisa melihat umpan balik itu. Apabila lawan komunikasi kita memberikan respons yang baik terhadap self-disclosure kita, dengan melakukan self-disclosure juga maka proses komunikasi yang menyingkapkan diri kita itu akan terus berlangsung.
3. Topik Bahasan
Kita ingat kembali lapisan bawang dalam Gambar 3.2. tadi. Pada awalnya orang akan selalu berbicara hal-hal yang umum saja. Makin akrab maka akan makin mendalam topik pembicaraan kita. Tidak mungkin kita berbicara soal-soal yang sangat pribadi, misalnya kehidupan seksual kita, pada orang yang baru kita kenal atau orang yang tidak kita akrabi. Kita akan lebih memilih topik percakapan yang umum, seperti soal cuaca, politik secara umum, kondisi keuangan negara atau kondisi sosial.
4.Valensi
Ini terkait dengan sifat positif atau negatif self-disclosure. Pada umumnya, manusia cenderung lebih menyukai valensi positif atau self-disclosure positif dibandingkan dengan self-disclosure negatif. Apalagi apabila lawan komunikasi kita bukanlah orang yang kita akrabi betul. Namun, apabila lawan komunikasi kita itu adalah orang yang sudah kita akrabi betul maka self-disclosure negatif bisa saja dilakukan.
5. Jenis Kelamin
Wanita lebih terbuka dibandingkan dengan pria. Bisa saja ungkapan tersebut merupakan ungkapan stereotipikal. Namun, beberapa penelitian menunjukkan ternyata wanita memang lebih terbuka dibandingkan dengan pria. Meski bukan berarti pria juga tidak melakukan self-disclosure. Bedanya, apabila wanita mengungkapkan dirinya pada orang yang dia sukai maka pria mengungkapkan dirinya pada orang yang dipercayainya.
6. Ras, Nasionalitas, dan Usia
Ini juga bisa saja dipandang sebagai bentuk stereotip atas ras, nasionalitas, dan usia. Namun, kenyataan menunjukkan memang ada ras-ras tertentu yang lebih sering melakukan self-disclosure dibandingkan dengan ras lainnya. Misalnya kulit putih Amerika lebih sering melakukan self-disclosure dibandingkan dengan orang negro. Begitu juga dengan usia, self-disclosure lebih banyak dilakukan oleh pasangan yang berusia antara 17-50 tahun dibandingkan dengan orang yang lebih muda atau lebih tua.
7.Mitra dalam Hubungan
Dengan mengingat tingkat keakraban sebagai penentu kedalaman self-disclosure maka lawan komunikasi atau mitra dalam hubungan akan menentukan self-disclosure itu. Kita melakukan self-disclosure kepada mereka yang kita anggap sebagai orang yang dekat misalnya suami/istri, teman dekat atau sesama anggota keluarga. Di samping itu, kita juga akan memandang bagaimana respon mereka. Apabila kita pandang mereka itu orang yang hangat dan penuh perhatian maka kita akan melakukan self-disclosure, apabila sebaliknya yang terjadi maka kita akan lebih memilih untuk menutup diri.

Komunikasi dan Self-disclosure


Dalam berkomunikasi dengan sesamanya, manusia pada dasarnya melakukan pengungkapan diri. Namun, pengungkapan diri tersebut, mungkin saja baru sampai pada sisi-sisi terluar dari dirinya. Ketika situasi komunikasi antarpribadi terbentuk dan pelaku komunikasi berkeinginan mempengaruhi jalannya komunikasi, self-disclosure berlangsung. Apalagi apabila komunikasi antarpribadi itu merupakan komunikasi di antara dua orang (dyadic) yang sudah akrab maka self-disclosure itu akan berlangsung hingga bisa tersingkapkan bagian-bagian diri yang terdalam.

Seperti sudah diungkapkan sebelumnya, self-disclosure itu bersifat timbal balik atau ada juga yang menyatakan, dalam komunikasi, self-disclosure itu bersifat simetris. Masing-masing orang yang terlibat dalam komunikasi itu akan saling menyingkapkan dirinya. Apabila saja salah satu pihak yang berkomunikasi itu tidak membuka dirinya maka self-disclosure tidak akan bisa berlangsung.

Berkaitan dengan situasi komunikasi antarpribadi yang berlangsung karena keakraban dan self-disclosure pun berlangsung karena keakraban di antara pihak-pihak yang terlibat, dengan sendirinya self-disclosure pun tak mungkin berlangsung di antara orang yang saling bermusuhan, saling mencurigai atau sedang berkonflik. Dalam situasi bermusuhan atau saling mencurigai, orang akan saling menutup diri. Begitu juga dalam situasi konflik akan bertahan pada posisinya masing-masing sehingga tidak memungkinkan terjadinya self-disclosure.

Oleh karena itu, banyak yang menggunakan pendekatan self-disclosure untuk membangun keakraban dalam kelompok atau dalam upaya mengatasi konflik. Salah satu pihak yang terlibat konflik berusaha melakukan self-disclosure dan mengajak lawan konfliknya untuk melakukan hal yang serupa. Dengan cara demikian, bisa dibangun saling percaya dan akhirnya saling membuka diri sehingga komunikasi bisa berlangsung. Terjadilah pertukaran gaul, pertukaran kata, pertukaran pikiran, dan pertukaran hati. Terbangunnya relasi yang positif di antara pihak-pihak yang terlibat menjadi dasar terbangunnya komunikasi antarpribadi yang positif pula melalui self-disclosure.
Hal penting lain yang perlu diperhatikan, self-disclosure itu tidak akan pernah terjadi begitu saja atau mendadak terjadi. Ada proses dan tahapan yang dilalui. Katakanlah mirip dengan cara kita membuka kulit bawang yang diilustrasikan melalui Gambar 3.2 di atas. Secara bertahap orang memasuki kondisi self-disclosure yang lebih mendalam. Apabila hubungan di antara orang yang berkomunikasi berlangsung stabil maka self-disclosure pun akan mengarah pada kondisi yang stabil. Perkembangan tersebut berlangsung secara bertahap.

Dengan demikian, bisa kita nyatakan self-disclosure merupakan salah satu bagian penting dalam membangun komunikasi antarpribadi. Dengan self-disclosure orang bisa saling mengokohkan keakraban dan membangun saling percaya. Keakraban dan saling percaya itu, sangat penting dalam membangun komunikasi antarpribadi yang saling mendukung dan memberikan manfaat positif bagi pihak-pihak yang berkomunikasi. Namun masalahnya, pada masyarakat modern yang kian individualistik, justru keakraban itu makin lenyap sehingga salah satu krisis yang dihadapi manusia modern adalah krisis komunikasi antarpribadi (lihat, Joseph, 1986:41). Oleh karena itu, self-disclosure yang positif diperlukan dan komunikasi antarpribadi yang memungkinkan pengembangan diri masing-masing bisa berlangsung dengan baik.

MEMAHAMP PENDIDIKAN DAN BELAJAR ORANG DEWASA


Pendidikan Orang Dewasa atau Andragogi adalah ilmu tentang memimpin atau membimbing orang dewasa atau ilmu mengajar orang dewasa. Pendidikan orang dewasa berbeda dengan konsep pendidikan untuk anak-anak, yang sering disebut dengan istilah pedagogi.

Perbedaan antara konsep andragogi dan pedagogi adalah bahwa konsep andragogi berkaitan dengan proses pencarian dan penemuan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia untuk hidup, sedangkan konsep pedagogi berkaitan dengan proses mewariskan kebudayaan yang dimiliki generasi yang lalu kepada generasi sekarang.

Perbedaan Orang Dewasa dan Anak-anak

Terdapat 4 (empat) konsep untuk membedakan antara orang dewasa dan anak-anak, yaitu

(1) konsep diri,
(2) konsep pengalaman,
(3) konsep kesiapan belajar, dan
(4) konsep perspektif waktu atau orientasi belajar.

Menurut konsep diri orang disebut dewasa, jika orang tersebut (1) mampu mengambil keputusan bagi dirinya, (2) mampu memikul tanggung jawab, dan (3) sadar terhadap tugas dan perannya.

Adapun menurut konsep pengalaman orang dewasa adalah kaya dengan pengalaman, tidak seperti botol yang kosong atau lembaran kertas yang bersih. Konsep kesiapan belajar menekankan bahwa orang disebut dewasa kalau sadar terhadap kebutuhannya dan kesadaran terhadap kebutuhan inilah yang akan menjadi sumber kesiapan untuk belajar. Sedangkan menurut konsep perspektif waktu atau orientasi belajar adalah bahwa orang dewasa belajar berpusat pada persoalan yang dihadapi sekarang, yaitu bagaimana menemukan masalah sekarang dan memecahkannya sekarang juga. Jadi, belajar sekarang untuk digunakan sekarang, bukan belajar sekarang untuk bekal masa datang.

Dalam andragogi terdapat hubungan timbal balik di dalam transaksi belajar-mengajar, di mana hubungan pengajar dan pelajar adalah hubungan yang saling membantu. Dalam pedagogi terdapat hubungan ketergantungan (dependent) dari murid kepada guru, di mana hubungan guru dan murid adalah hubungan yang bersifat memerintah.

Dalam andragogi komunikasi banyak arah dipergunakan oleh semua yang hadir (pengajar dan pelajar) sebagai warga belajar, di mana pengalaman dari semua yang hadir dinilai sebagai sumber untuk belajar. Dalam pedagogi komunikasi satu arah terjadi antara guru dan murid, di mana pengalaman guru dinilai sebagai sumber utama untuk belajar.

Dalam andragogi pelajar mengelompokkan dirinya berdasarkan minat, di mana pengajar memfasilitasi untuk membantu pelajar menentukan kebutuhan belajarnya. Dalam pedagogi murid di-kelompokkan berdasarkan tingkatan atau kelas, di mana guru menyusun kurikulum untuk setiap tingkatan atau kelas tersebut.

Dalam andragogi belajar berorientasi pada pemecahan masalah, yaitu belajar sambil bekerja pada persoalan sekarang untuk dipergunakan sekarang juga. Dalam pedagogi orientasi belajarnya adalah pada mata pelajaran yang dipelajari oleh murid sekarang untuk bekal hidup di masa mendatang.

Gaya Pembelajaran Orang Dewasa

Gaya pembelajaran adalah gambaran kegiatan-kegiatan yang paling cocok dilakukan seseorang untuk mengembangkan kemampuan dirinya dalam pembelajaran. Identifikasi gaya pembelajaran dilakukan dengan mengisi instrumen penilaian gaya pembelajaran. Pada umumnya setiap orang memiliki semua jenis gaya pembelajaran, namun akan ada jenis gaya pembelajaran yang dominan yang akan digunakan untuk mengembangkan kemampuan dirinya dalam pembelajaran.

Ciri-ciri gaya pembelajaran tergantung (dependent) adalah sebagai berikut.

Pengajar menyampaikan materi sajiannya dengan baik sekali, biasanya menggunakan metode kuliah dengan menggunakan alat peraga dan memberi kesempatan untuk melakukan tanya jawab.

Pengajar merencanakan secara detail semua kegiatan pembelajaran.
Pengajar merancang dan mengorganisasi pembelajaran, kemudian menjelaskannya kepada para pelajar.
Pengajar yang menetapkan materi yang diperlukan dalam pelajar.
Pelajar akan senang apabila pengajar menyajikan materinya dengan kuliah dan demonstrasi.
Pengajar memberitahukan hal-hal yang benar atau yang salah menurut pendapatnya.

Pengajar melakukan kontrol yang ketat terhadap diskusi yang akan dilakukan oleh pelajar sehingga waktu dapat dipergunakan dengan baik.
Pengajar memikul tanggung jawab penuh terhadap keberhasilan pembelajaran.
Pelajar menyerahkan sepenuhnya kepada pengajar mengenai jawaban pertanyaan atau hal-hal yang dianggapnya paling benar yang menyangkut materi pembelajaran.
Pengajar memutuskan apakah pelatihan dianggap berhasil atau gagal.
Ciri-ciri gaya pembelajaran kerja sama (collaborative) adalah sebagai berikut.

Pengajar ikut bersama-sama dengan para pelajar dalam kegiatan pembelajaran.

Pengajar bersama-sama dengan para pelajar bertanggung jawab terhadap penetapan materi pembelajaran.

Peran utama pengajar adalah mendorong para pelajar agar dapat bekerja sama, mengembangkan alternatif-alternatif, dan mengarah-kan mereka untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Pengajar sebaiknya menerima ide atau pendapat para pelajar, walaupun sebenarnya dia tidak setuju.

Pengajar hendaknya membagi tanggung jawab bersama-sama dengan para pelajar untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pengajar memberikan kesempatan kepada pelajar untuk memberikan komentar dan mengungkapkan kebutuhan mereka untuk menyempurnakan program pendidikan.

Pengajar mengharapkan para pelajar dapat beradu pendapat dengannya.

Para pelajar diikutsertakan dalam penyusunan rencana pembelajaran.

Pengajar membantu para pelajar agar mereka dapat menentukan materi pembelajaran termasuk topik-topik yang akan dipelajari.

Pelajar bersama-sama dengan pengajar menentukan apakah pembelajaran bermanfaat atau tidak, apabila tidak bermanfaat, kemudian diputuskan langkah-langkah apa yang akan diambil mereka.

Mengenal Corak Kepribadian Orang Dewasa

Mengenal corak kepribadian seseorang merupakan faktor penentu keberhasilan interaksi kegiatan pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa. Interaksi antarwarga belajar adalah inti dari kegiatan pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa. Interaksi antarwarga belajar akan terjadi apabila ada kontak dan komunikasi di antara mereka

Ada empat dimensi yang menentukan corak kepribadian seseorang, yaitu sebagai berikut.
1. Dimensi 1 : Tertutup (T) – Terbuka (B).
2. Dimensi 2 : Idealis (I) – Praktisi (P).
3. Dimensi 3 : Perasa (R) – Pemikir (F).
4. Dimensi 4 : Mediator (M) – Kontroler (K).

Segi Kuat dan Segi Lemah Kepribadian Orang Dewasa

Dari berbagai corak dimensi kepribadian orang dewasa, terdapat nilai-nilai atau segi kekuatan dan nilai-nilai atau segi kelemahan. Hal ini menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki sisi kuat dan sisi lemah, tidak ada yang sempurna.
Dalam berinteraksi, kekuatan seseorang diharapkan dapat menutup kelemahan orang lain sehingga tercipta hubungan yang harmonis tanpa ada perselisihan.

Suasana Pembelajaran Orang Dewasa

Untuk menciptakan pembelajaran orang dewasa yang efektif dan efisien diperlukan suasana yang menggambarkan berikut ini.
1. Kumpulan manusia aktif.
2. Saling hormat menghormati.
3. Saling menghargai.
4. Saling mempercayai.
5. Penemuan diri.
6. Tidak mengancam.
7. Keterbukaan.
8. Mengakui corak kepribadian.
9. Membenarkan adanya perbedaan.
10. Mengakui hak.
11. Untuk melakukan penilaian bersama.

Untuk menciptakan suasana pembelajaran orang dewasa yang efektif dan efisien perlu diterapkan prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa dan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa.

Prinsip Pendidikan Orang Dewasa

Untuk menciptakan suasana pembelajaran orang dewasa yang efektif dan efisien perlu diterapkan sepuluh prinsip pendidikan orang dewasa, yaitu sebagai berikut.
1. Prinsip kemitraan.
2. Prinsip pengalaman nyata.
3. Prinsip kebersamaan.
4. Prinsip partisipasi.
5. Prinsip keswadayaan.
6. Prinsip kesinambungan.
7. Prinsip manfaat.
8. Prinsip kesiapan.
9. Prinsip lokalitas.
10. Prinsip keterpaduan.

Prinsip Belajar Orang Dewasa

Untuk menciptakan suasana pembelajaran orang dewasa yang efektif dan efisien perlu diterapkan sebelas prinsip belajar orang dewasa, yaitu sebagai berikut.
1. Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila dia secara penuh mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran.
2. Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila materinya menarik bagi dia dan ada kaitannya dengan kehidupannya sehari-hari.
3. Orang dewasa akan belajar dengan sebaik mungkin apabila apa yang dipelajari bermanfaat dan dapat diterapkan.
4. Dorongan semangat dan pengulangan terus-menerus akan membantu orang dewasa untuk belajar lebih baik.
5. Orang dewasa akan belajar sebaik mungkin apabila dia mempunyai kesempatan yang memadai untuk mengembangkan pengetahuannya, sikapnya dan keterampilannya.
6. Proses belajar orang dewasa dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang lalu dan daya pikirnya.
7. Saling pengertian yang lebih baik akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran.
8. Orang dewasa akan lebih banyak belajar dari situasi kehidupan nyata.
9. Orang dewasa tidak dapat memusatkan perhatian untuk waktu yang lama kalau hanya mendengar saja.
10. Orang dewasa mencapai retensi tertinggi melalui kombinasi kata-kata dan visual.
11. Orang dewasa akan cenderung mengulang kembali perilaku yang dipuji.

Mengajar Orang Dewasa

Hakikat Pendidik dalam Pendidikan Orang Dewasa Pendidik dalam pendidikan orang dewasa pada hakikatnya adalah pendamping belajar dari orang dewasa yang:
tidak dapat dipisahkan dari situasi kehidupan nyata;
• penuh dengan pengalaman;
• penuh dengan tanggung jawab;
• mampu mengambil keputusan yang paling baik bagi dirinya;
• sadar terhadap tugas dan perannya;
• sadar dan mengerti akan kebutuhannya;
• selalu ingin menjawab tantangan yang dihadapinya;
• selalu ingin memperbaiki kualitas kehidupannya;
• selalu terikat pada kehidupan masyarakatnya atau kelompoknya;
• ingin mandiri untuk menemukan dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya;
• belajar sekarang untuk dipergunakan sekarang juga.

Pemandu dalam Pendidikan Orang Dewasa

Ciri-ciri pemandu dalam pendidikan orang dewasa adalah sebagai berikut.
• Menjadi anggota kelompok yang diajar.
• Mampu menciptakan iklim pembelajaran yang baik.
• Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya.
• Memikirkan orang lain.
• Menyadari kelemahannya, mampu mengembangkan tingkat keterbukaan, kekuatannya dan tahu di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.
• Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya.
• Peka dan mengerti perasaan orang lain lewat pengamatannya.
• Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang.
• Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang lain.
• Menyadari bahwa perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar.
• Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi positif dan negatif.
• Sikap pemandu dalam pendidikan orang dewasa adalah:
• Tidak berusaha menonjolkan diri.
• Selalu berusaha memfasilitasi dan menggugah proses berpikir pelajar.
• Selalu bersama untuk menjalin kerja sama dengan pelajar dengan cara menghargainya dan menghormatinya.
• Selalu mengembangkan proses dialog horizontal dengan pelajar dan bukan merupakan komunikasi satu arah.
• Tidak menggurui.
• Tindakan nyata pemandu dalam pendidikan orang dewasa adalah sebagai berikut.
• Mendengarkan pendapat pelajar.
• Turun bersama-sama pelajar untuk mengetahui masalah yang dihadapi mereka.
• Berdiskusi secara terbuka dengan pelajar tentang masalah mereka dan bukan berbicara selaku orang yang lebih tahu terhadap orang yang tidak mengetahui atau lebih tinggi kedudukannya terhadap orang yang lebih rendah.
• Menghormati pelajar dengan meng”orang”kannya, yaitu dengan mengajukan pertanyaan, menaruh perhatian, membantu mereka menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri, dan tidak pernah memberikan jawaban pertanyaan pelajar secara langsung.
Ciri-ciri orang dewasa yang akan ikut menentukan keberhasilan proses belajarnya yang perlu dipahami oleh pemandu adalah sebagai berikut.
• Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman.
• Orang dewasa mempunyai tendensi dapat menentukan kehidupan-nya sendiri.
• Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran ketimbang digurui.
• Orang dewasa memberikan perhatian lebih pada hal-hal yang menarik baginya
• dan menjadi bagian dari kebutuhannya.
• Orang dewasa lebih suka dihargai daripada diberikan hukuman atau disalahkan.
• Orang dewasa biasa menilai rendah terhadap kemampuannya.
• Orang dewasa lebih menyenangi hal-hal yang bersifat praktis.
• Orang dewasa membutuhkan waktu belajar yang relatif lebih lama, akrab dan menjalin hubungan yang erat.

Cara Belajar Lewat Pengalaman (CBLP) sebagai Teknik Pembelajaran Orang Dewasa

Teknik pembelajaran yang biasa digunakan untuk pembelajaran orang dewasa adalah teknik pembelajaran CBLP. Penyelenggaraan CBLP harus memenuhi 4 syarat, yaitu
(1) Partisipasi aktif,
(2) Tanggung jawab penuh,
(3) Pembelajaran dalam kelompok,
(4) Berorientasi kepada kebutuhan.

Kelebihan teknik pembelajaran CBLP, antara lain (1) Mampu menumbuhkan rangsangan bagi pelajar untuk menemukan sendiri hasil belajarnya; dan (2) Menempatkan pelajar sebagai manusia seutuhnya atau subjek pembelajar.
Adapun langkah-langkah daur CBLP terdiri atas 5 tahap, yaitu
(1) Mengalami,
(2) Mengemukakan pengalaman,
(3) Mengolah pengalaman,
(4) Menyimpulkan, dan
(5) Menerapkan atau meng-aplikasikan.

KONSEP DASAR KOMUNIKASI PERSUASIF


Manusia dan komunikasi merupakan satu kesatuan. Komunikasi melekat pada diri manusia, sehingga we can not communicate. Keberadaan komunikasi, karena begitu melekatnya pada diri manusia sering tanpa disadari. Manusia cenderung beranggapan bahwa dirinya mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi. Akibatnya, masalah-masalah yang muncul yang berkaitan dengan komunikasi, seringkali diselesaikan sendiri.Dalam mempelajari komunikasi persuasif, memahami aspek filosofis komunikasi persuasif, sangat ditekankan. Hal ini mengingat bahwa komunikasi persuasif, sebagaimana halnya ilmu-ilmu yang lain, memiliki tiga aspek filosofis keilmuan, yaitu aspek ontologi, aspek epistemologi, dan aspek aksiologi.

Dengan memahami ketiga aspek filosofi ilmu tersebut, Anda dapat membedakan berbagai ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam khasanah kehidupan manusia. Hal yang terpenting adalah Anda akan mengenali ciri-ciri dari Ilmu Komunikasi Persuasif, serta dapat memanfaatkannya secara maksimal untuk kesejahteraan umat manusia.

Aspek ontologi, menyangkut pertanyaan apa yang dikaji oleh suatu ilmu, aspek epistemologi berkaitan dengan pertanyaan cara-cara memperoleh ilmu tersebut, dan aspek aksiologi berkenaan dengan pertanyaan penggunaan dari ilmu tersebut.

Dalam melakukan komunikasi persuasif, kita harus memahami kriteria tanggung jawab persuasi, sebagaimana yang dikemukakan Larson, yaitu adanya kesempatan yang sama untuk saling mempengaruhi, memberi tahu audiens tentang tujuan persuasi, dan mempertimbangkan kehadiran audiens”.

Konsep-konsep Dasar Komunikasi Persuasif

Komunikasi ada dalam segala aktivitas hidup kita. Bentuknya bisa berupa tulisan, lisan, gambar, isyarat, kata-kata yang dicetak, simbol visual, audio visual, rabaan, suara, kimiawi, komunikasi dengan diri sendiri, kelompok, organisasi, antarpersona, dialogis, dan lain-lain.

Istilah komunikasi berasal dari perkataan Latin communicare, yang berarti berpartisipasi, memberitahukan, atau menjadi milik bersama.

Dalam definisi komunikasi yang dikemukakan beberapa ahli, walaupun pengungkapannya beragam, namun terdapat kesamaan telaah atas fenomena komunikasi. Kesamaan tersebut nampak dalam isi yang tercakup di dalamnya, yaitu adanya komunikator, komunikan, pesan, media/saluran, umpan balik, efek, dampak serta adanya tujuan dan terbentuknya pengertian bersama.

Untuk memahami komunikasi, dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif umum dan perspektif paradigmatik. Perspektif secara umum dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengertian secara etimologis, dan pengertian secara terminologis.

Istilah persuasi bersumber dari perkataan Latin, persuasio, yang berarti membujuk, mengajak atau merayu.

Persuasi bisa dilakukan secara rasional dan secara emosional. Dengan cara rasional, komponen kognitif pada diri seseorang dapat dipengaruhi. Aspek yang dipengaruhi berupa ide ataupun konsep. Persuasi yang dilakukan secara emosional, biasanya menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah.

Dari beberapa definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli, tampak bahwa persuasi merupakan proses komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku seseorang, baik secara verbal maupun nonverbal.

Komponen-komponen dalam persuasi meliputi bentuk dari proses komunikasi yang dapat menimbulkan perubahan, dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar, dilakukan secara verbal maupun nonverbal.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam komunikasi persuasi meliputi kejelasan tujuan, memikirkan secara cermat orang-orang yang dihadapi, serta memilih strategi yang tepat.

Ruang lingkup kajian ilmu komunikasi persuasif meliputi sumber, pesan, saluran/media, penerima, efek, umpan balik, dan konteks situasional.

Pendekatan yang digunakan dalam komunikasi persuasif adalah pendekatan psikologis.

Tiga fungsi utama komunikasi persuasif adalah control function, consumer protection function, dan knowledge function.

Model Proses Komunikasi Persuasif

Untuk mempermudah dalam mempelajari dan menganalisis komunikasi persuasif, seperti halnya juga ilmu-ilmu yang lain, seringkali digunakan berbagai model. Model adalah gambaran atau persamaan aspek-aspek tertentu dari peristiwa-peristiwa, struktur-struktur atau sistem-sistem yang kompleks, yang dibuat dengan menggunakan simbol-simbol atau objek-objek dengan berbagai cara sehingga menyerupai sesuatu yang dibuat modelnya tersebut.

Model berfungsi untuk menyederhanakan realitas sosial dan alam yang kompleks. Selain itu, ia juga, berfungsi sebagai alat pelajaran dan pengingat yang efektif, membentuk hubungan yang baru, membantu dalam menelaah berbagai persoalan yang kita hadapi, menemukan sesuatu dengan cara-cara yang baru, alat kerangka berpikir dalam penelitian, menolong dalam mengantisipasi berbagai kesulitan dan masalah pekerjaan, serta berbagai urusan yang kita hadapi.

Komunikasi persuasif adalah suatu proses, yakni proses mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal. Proses itu sendiri adalah setiap gejala atau fenomena yang menunjukkan suatu perubahan yang terus-menerus dalam konteks waktu, setiap pelaksanaan atau perlakuan secara terus-menerus. Ada dua persoalan yang berkaitan dengan penggunaan proses, yakni persoalan dinamika, objek, dan persoalan penggunaan bahasa.

Applebaum dan Anatol membuat model-model komunikasi persuasif, yang di dalamnya melukiskan mekanisme persuasi antara dua orang yang sedang terlibat komunikasi.

Simons, secara terperinci menguraikan model-model komunikasi persuasif. Model-model tersebut meliputi model sederhana komunikasi persuasif dan model kompleks komunikasi persuasif. Model kompleks terdiri atas Model Dua Penerima atau Lebih, Model Dua Pesan atau Lebih, Model Dua Sumber atau Lebih, Model Pengaruh Timbal Balik, Model Pengaruh Timbal Balik melalui Saluran Delegatif, dan Model Penggunaan Medium Tidak Langsung.

Unsur-unsur dalam Komunikasi Persuasif

Menurut Aristoteles, komunikasi dibangun oleh tiga unsur yang fundamental, yakni orang yang berbicara, materi pembicaraan yang dihasilkannya, dan orang yang mendengarkannya. Aspek yang pertama disebut komunikator atau persuader, yang merupakan sumber komunikasi, aspek yang kedua adalah pesan, dan aspek yang ketiga disebut komunikan atau persuadee, yang merupakan penerima komunikasi.

Persuader adalah orang dan atau sekelompok orang yang menyampaikan pesan dengan tujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku orang lain baik secara verbal maupun nonverbal. Dalam komunikasi persuasif, eksistensi persuader benar-benar diper-taruhkan. Oleh karena itu, ia harus memiliki ethos yang tinggi. Ethos adalah nilai diri seseorang yang merupakan paduan dan aspek kognisi, afeksi, dan konasi.

Seorang persuader yang memiliki ethos tinggi, dicirikan oleh kesiapan, kesungguhan, ketulusan, kepercayaan, ketenangan, keramah-an, dan kesederhanaan. Jika komunikasi persuasif ingin berhasil seorang persuader harus memiliki sikap reseptif, selektif, digestif, asimilatif, dan transitif.

Persuadee adalah orang dan atau sekelompok orang yang menjadi tujuan pesan itu disampaikan dan disalurkan oleh persuader baik secara verbal maupun nonverbal.

Variabel kepribadian dan ego yang rumit merupakan dua kelompok konsep yang berpengaruh terhadap penerimaan persuadee terhadap komunikasi, termasuk juga faktor persepsi dan pengalaman.

Pesan adalah segala sesuatu yang memberikan pengertian kepada penerima. Pesan bisa berbentuk verbal dan nonverbal. Pesan verbal terdiri dari pesan verbal yang disengaja dan tak disengaja. Pesan nonverbal juga terdiri atas pesan nonverbal disengaja dan tak disengaja.

Saluran merupakan perantara, di antara orang-orang yang berkomunikasi. Bentuk saluran tergantung pada jenis komunikasi yang dilakukan.

Umpan balik adalah balasan atas perilaku yang diperbuat, umpan balik bisa berbentuk internal dan eksternal. Umpan balik internal adalah reaksi persuader atas pesan yang disampaikannya. Umpan balik eksternal adalah reaksi penerima (persuadee) atas pesan yang disampaikannya. Umpan balik eksternal bisa bersifat langsung, dapat pula tidak langsung.

Efek komunikasi persuasif adalah perubahan yang terjadi pada diri persuader sebagai akibat dan diterimanya pesan melalui proses komunikasi, efek yang bisa terjadi berbentuk perubahan sikap pendapat dan tingkah laku.

Lingkungan komunikasi persuasif adalah konteks situasional di mana proses komunikasi persuasif ini terjadi. Hal itu bisa berupa konteks historis, konteks fisik temporal, kejadian-kejadian kontemporer, impending events dan norma-norma sosiokultural.

Konsep Dasar Sikap

Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, dan nilai, mempunyai daya pendorong atau motivasi, relatif menetap, mengandung aspek evaluatif, dan sikap timbul dari hasil pengalaman.

Karakteristik sikap adalah memiliki objek, memiliki arah, derajat, dan intensitas, dapat dipelajari, dan bersifat stabil serta tahan lama.

Ada tiga komponen sikap, yakni komponen kognitif, afektif, dan konatif atau psikomotor. Komponen kognitif berkaitan dengan kepercayaan tentang objek, ide dan konsep. Komponen afektif berkaitan dengan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Komponen konatif merupakan kecenderungan seseorang untuk berperilaku.

Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi pembentukan sikap seseorang, yakni pengaruh faal, kepribadian, dan faktor eksternal. Pengaruh faal berkaitan dengan aspek biologis seseorang, sedangkan faktor kepribadian menyangkut perpaduan antara mental dan neural. Pengaruh eksternal berkaitan dengan faktor lingkungan, baik berupa situasi, pengalaman maupun hambatan untuk terbentuknya sikap.

Sikap merupakan aspek yang sangat strategis dalam kajian persuasi. Konsep sikap sangat bermanfaat bagi persuader dalam memprediksi sikap persuadee sehingga ia dapat melakukan komunikasinya secara efektif.

Pendekatan Teori Belajar dalam Komunikasi Persuasif

Classical Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang memungkinkan organisme memberikan respon terhadap suatu rangsangan yang sebelumnya tidak menimbulkan respon tersebut.

Unsur-unsur Classical Conditioning meliputi Unconditional stimulus, unconditional respons, dan conditioned stimulus. Konsep tersebut berkaitan dengan tahap-tahap penelitian Pavlov, yang terdiri dari tahap latihan, terbentuknya pelaziman, reinforce, dan spontaneous recovery.

Operant Conditioning adalah penggunaan konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku individu.

Throndike merumuskan konsep belajar, dengan prinsip utamanya yang terkenal law of effect. Skinner mengembangkan law of effect dari Thorndike dengan menambahkan unsur reinforcement atau penguatan.

Ada lima konsep yang berkaitan dengan jadwal penguatan dan pengaruhnya terhadap taraf respon dan taraf penghapusan, yakni penguatan kontinu, penguatan rasio-tetap, penguatan selang-tetap, penguatan rasio-berubah, dan penguatan selang-berubah.

Skinner membedakan tingkah laku menjadi dua jenis, yakni tingkah laku responden dan tingkah laku operant.

McGuire mengembangkan teori inokulasi (theory of inoculation) dengan menganalogikan proses penggunaan imunisasi untuk jenis penyakit tertentu.

Melalui pendekatan inokulasi, seseorang akan menolak persuasi dengan cara mempertahankan posisinya, sehingga ia menjadi tidak peka terhadap pesan-pesan persuasi yang datang dari orang lain.

Persuasi dapat dipandang sebagai suatu cara belajar. Manusia dapat belajar tentang fenomena-fenomena yang ada di hadapannya. Manusia dapat mengubah respon yang berkaitan dengan sikapnya. Belajar persuasi merupakan suatu gabungan produk pesan yang diterima individu dan mengantarai berbagai kekuatan di dalam individu yang bertindak berdasarkan pesan-pesan tersebut agar menghasilkan pesan-pesan persuasif.

Pendekatan Teori Konsistensi Kognitif, Teori Social Judgment, dan Teori Fungsional dalam Komunikasi Persuasif

Asumsi dasar Teori Konsistensi Kognitif adalah bahwa kognisi (perasaan, kepercayaan, pikiran, imajinasi, dan lain-lain) tentang orang atau kejadian cenderung diorganisasikan atau distrukturkan ke dalam pengertian secara keseluruhan.

Asumsi dasar Teori Congruity adalah apabila ada suatu perubahan evaluasi atau sikap, maka arah perubahan itu selalu menuju pada persamaan atau harmoni dengan frame of reference yang dimenangkan atau diatasi.

Apabila antara komponen kognitif dan komponen afektif bersifat konsisten satu sama lain, maka sikap seseorang akan berada dalam kondisi yang stabil. Sebaliknya, jika menunjukkan ketidakkonsistenan, maka sikap orang berada dalam kondisi labil. Kondisi labil akan membawa pada aktivitas reorganisasi yang spontan menuju pada kondisi tercapainya konsistensi afektif-kognitif atau menempatkan inkonsistensi yang tidak terselesaikan tersebut di luar batas kesadaran aktif.

Teori Disonansi Kognitif membahas tentang ketidakkonsistenan secara psikologis mengenai apa yang diketahui seseorang, bagaimana mereka bertindak, serta bagaimana mereka memperlakukan ketidak-konsistenan tersebut.

Asumsi dasar Teori Social Judgment adalah bahwa orang membentuk situasi yang penting buat dirinya, dan tidak ditentukan oleh situasi. Teori tersebut memfokuskan dirinya dalam mempelajari proses psikologik yang mendasari pernyataan sikap dan perubahan sikap melalui komunikasi. Konsep utama Teori Social Judgment adalah pembentukan skala penilaian, norma-norma, penolakan, penerimaan, serta wilayah dari tingkat menerima atau menolak.

Ada tiga faktor yang dapat digunakan untuk mengubah pertahanan diri, yaitu penghilangan ancaman, katarsis, dan membantu individu dalam memperoleh wawasan dalam pertahanan mekanisme dirinya.

Nilai ekspresif berasal dari konsep diri seseorang dan merupakan refleksi dari nurani manusia. Dalam fungsi ini, sikap merupakan “layar” bagi segala ungkapan diri individu yang dapat dibaca dan dilihat.

Melalui fungsi ekspresi nilai, individu dapat mengembangkan sikap tertentu untuk memperoleh kepuasan dalam menyatakan nilai yang dianutnya, sesuai dengan penilaian pribadi dan konsep dirinya.

Sikap dapat berfungsi sebagai penerima objek dan ilmu pengetahuan serta dapat memberikan arti dan makna terhadap objek tertentu. Sikap dapat berfungsi sebagai alat evaluasi terhadap fenomena yang ada dan melalui sikap tersebut, diorganisasikan.

Komunikasi dapat mendekatkan sikap individu dengan sikap individu lainnya, dan bisa pula menjauhkannya. Hal ini tergantung pada posisi awal individu tersebut dengan individu yang lainnya. Strategi komunikasi persuasi yang baik, tidak bisa dikembangkan sampai seseorang mengetahui apakah sikap tertentu yang dilakukan oleh seorang persuadee membantu dalam penyesuaian, pertahanan ego, pengekspresian nilai, dan sebuah fungsi pengetahuan.

Dasar dari teori fungsional adalah perubahan sikap seseorang tergantung pada kebutuhannya.

Fungsi utilitarian menyatakan bahwa individu dengan sikapnya, berusaha untuk memaksimalkan hal-hal yang diinginkan dan meminimalkan aspek-aspek yang tidak disukainya.

Fungsi pertahanan ego berarti bahwa sikap yang dibentuk oleh individu, digunakan untuk melindungi dirinya dari ancaman dunia luar.

Ada tiga faktor yang dapat digunakan untuk mengubah pertahanan diri, yaitu penghilangan ancaman, katarsis, dan membantu individu dalam memperoleh wawasan dalam pertahanan mekanisme dirinya.

Nilai ekspresif berasal dari konsep diri seseorang dan merupakan refleksi dari nurani manusia. Dalam fungsi ini, sikap merupakan “layar” bagi segala ungkapan diri individu yang dapat dibaca dan dilihat.

Melalui fungsi ekspresi nilai, individu dapat mengembangkan sikap tertentu untuk memperoleh kepuasan dalam menyatakan nilai yang dianutnya, sesuai dengan penilaian pribadi dan konsep dirinya.

Sikap dapat berfungsi sebagai penerima objek dan ilmu pengetahuan serta dapat memberikan arti dan makna terhadap objek tertentu. Sikap dapat berfungsi sebagai alat evaluasi terhadap fenomena yang ada dan melalui sikap tersebut diorganisasikan.

Strategi komunikasi persuasi yang baik, tidak bisa dikembangkan sampai seseorang mengetahui apakah sikap tertentu yang dilakukan oleh seorang persuadee membantu dalam penyesuaian terhadap pertahanan ego, pengekspresian nilai, dan sebuah fungsi pengetahuan.

Prinsip-prinsip Kredibilitas

Kredibilitas adalah persepsi persuadee tentang diri persuader yang berkaitan dengan tingkat keahlian, dapat dipercaya, kompetensi, dinamisme, sosiabilitas, dan karismatik. Secara garis besar, komponen kredibilitas terdiri atas keahlian dan dapat dipercaya. Namun demikian ada beberapa komponen lain yang masih terkait, yakni rasa aman, kualifikasi, dinamisme, dan sosiabilitas.

Keahlian merupakan kesan yang dibentuk persuadee tentang sumber komunikasi persuasif berkaitan dengan topik yang dibicarakan. Dapat dipercaya adalah kesan yang dibentuk persuadee tentang sumber komunikasi persuasif berkaitan dengan wataknya, seperti kejujuran, ketulusan, kebermoralan, bersifat adil, bersikap sopan, berperilaku etis, atau sebaliknya.

Untuk memprediksi penilaian persuadee terhadap tingkat dapat dipercaya si persuader, dapat dilakukan dengan analisis atribusional, yakni penilaian yang didasarkan pada pertalian dengan alasan pernyataan persuader. Dalam analisis atribusional terdapat tiga pertalian, yakni, apa yang dikemukakan merefleksikan kebenaran, bias pengetahuan, dan bias pernyataan.

Kredibilitas sumber komunikasi persuasif dapat diukur dengan mengembangkan konstruk semantic differential (perbedaan semantik). Sifat bipolar dalam semantic differential mencakup tiga sifat, yakni evaluasi, potensi, dan kegiatan.

Pengaruh kredibilitas sumber pada penerima, dalam jangka waktu yang lama akan memudar. Keadaan demikian disebut dengan sleeper effect. Saluran komunikasi yang dirancang dengan baik dan disajikan dengan tepat, ternyata dapat meningkatkan kredibilitas sumber.

Faktor-faktor vokalik, seperti nilai pembicaraan, variasi titinada, kualitas vokal, dan artikulasi dapat berpengaruh terhadap kredibilitas sumber. Hal ini akan dilihat dari nonfluencies yang terdiri atas vocalized pause, repetition, sentence corrections, stuttering, dan slip-tongue correction. Self reference dan prestige reference merupakan dua aspek yang berkaitan dengan artistic proof. Kedua aspek tersebut sangat penting untuk meningkatkan kredibilitas.

Prinsip Kesamaan dan Identifikasi Persuader

Identifikasi merupakan konsep psikologi yang berkaitan dengan cara-cara yang dilakukan oleh individu dalam mengatasi konflik, frustrasi, serta berbagai kecemasan yang dihadapinya. Pada mulanya, konsep identifikasi dikemukakan oleh Sigmund Freud untuk menjelaskan konsep peran kelamin anak-anak (sex-role identification).

Dalam proses identifikasi, peniruan yang dilakukan oleh individu terhadap sesuatu objek bersifat mantap dan membekas dalam kepribadian seseorang. Identifikasi didefinisikan sebagai pengenalan, verifikasi pada orang tertentu, tindakan atau proses yang menanggapi suatu keadaan yang diperkirakan atau dianggap seakan-akan sama yang pernah dialami sebelumnya, tindakan atau proses menghubungkan atau menyesuaikan diri dengan orang, kelompok atau nilai-nilai yang diterima dan maksud-maksud orang lain terhadap dirinya.

Untuk mempersuasi, sumber komunikasi persuasi melakukan manipulasi bahasa dengan berbagai cara, sehingga ia memperoleh isyarat kebersamaan antara sumber dan penerima.

Faktor kesamaan atau kemiripan merupakan dasar daya tarik untuk semua jenis hubungan antarmanusia, termasuk komunikasi persuasif. Dalam batas-batas tertentu, semakin mirip pihak-pihak yang berkomunikasi, maka akan semakin efektif pula komunikasi di antara mereka.

Kesamaan memegang peranan penting bagi hubungan antarmanusia, karena dapat mendatangkan ganjaran dan mempertahankan keseimbangan sikap. Terdapat empat tipe dasar tentang kesamaan sumber penerima, yaitu relevansi, tidak relevan, sikap, dan keanggotaan kelompok.

Atraksi, sangat memainkan peranan yang lebih besar dalam penilaian terhadap sumber daripada keahlian dan kehandalan. Kesamaan yang relevan memberikan kontribusi terhadap perubahan sikap dan keadaan sebaliknya terjadi pada kesamaan yang tidak relevan.

Penerima mempunyai dua tugas yakni menilai pesan-pesan yang disampaikan sumber dan menilai posisi yang mendukung topik pembicaraan. Penilaian terhadap sumber melibatkan determinasi kelayakan sumber yang khusus untuk pesan yang khusus.

Faktor-faktor Pesan dalam Komunikasi Persuasif

Menurut Blake dan Haroldsen (1979) pesan merupakan simbol yang diarahkan secara selektif yang diperuntukkan dalam mengkomuni-kasikan informasi. Dalam proses komunikasi, pesan yang disampaikan dapat berupa verbal dapat pula nonverbal. Dapat disengaja (intentional), dapat pula tak disengaja (unintentional). Pesan verbal merupakan salah satu faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan komunikasi persuasif. Di dalamnya terdapat aspek rangsangan wicara dan penggunaan kata-kata.

Tidak setiap rangsangan wicara dapat diterima langsung oleh sasaran, paling tidak hal ini tergantung pada sistem penginderaan, persepsi, perhatian, memori, dan berpikir.

Pesan nonverbal terdiri atas body notion or kinesics behavior, paralanguage, proxemics, olfaction, skin sensitivity to touch and temperatur, dan use the artifacts. Suatu pesan dikatakan efektif bila makna pesan yang dikirim persuader berkaitan erat dengan makna pesan yang diterima atau ditangkap serta dipahami oleh sasaran.

Bahasa dan Makna dalam Komunikasi Persuasif

Pesan merupakan hasil dari usaha manusia di dalam menyandikan gagasan-gagasannya. Arti atau makna tidak ada di dalam pesan. Arti bukanlah sesuatu yang didapatkan. Arti ada di dalam diri orang, dan merupakan respon yang tidak tampak. Kita memperoleh “arti” dari dunia pada awalnya berdasarkan proses “pembiasaan” atau conditioning. Kita memperoleh “arti” dari pengalaman kita.

Tiga prinsip hipotesis berperantara (mediation hypotesis) mengemukakan bahwa kita cenderung memisahkan (a) respon yang tidak menuntut banyak usaha atau tenaga, (b) respon yang tidak menghambat respon yang kita buat untuk stimulus distal pada permulaannya, dan (c) respon yang dapat membedakan stimulus tersebut dari stimulus lainnya. Arti denotatif menyatakan suatu hubungan, yang memerlukan hadirnya baik tanda kata maupun bendanya. Jadi arti denotatif dapat ditunjukkan dengan mengacu pada objek yang dimaksudkan. Kawasan arti denotatif adalah realitas fisik.

Arti struktural dapat diperoleh ketika suatu tanda (simbol) kata membantu kita untuk meramalkan tanda-tanda lain atau bilamana urutan dari dua tanda kata menceritakan sesuatu mengenai hubungannya yang tidak diperoleh dari masing-masing kata itu sendiri. Arti struktural adalah suatu hubungan antara tanda dengan tanda. Adapun arti kontekstual bersifat “cangkokan” dan melalui arti ini kita akan memperoleh kejelasan tentang istilah-istilah tertentu yang sebenarnya belum kita ketahui artinya. Sementara itu, arti konotatif merupakan hubungan antara suatu tanda dengan suatu objek. Hal itu melibatkan lebih dari sekadar pelibatan orang-orang pada arti yang lain.

Hipotesis Sapir-Whorf mengatakan bahwa dunia ini dipersepsi secara berbeda oleh para anggota komunitas linguistik yang berlainan dan persepsi ini ditransmisikan serta dipertahankan oleh bahasa. Penggunaan bahasa yang tidak tepat dapat mengganggu proses berpikir seseorang. Beberapa di antaranya yang dapat langsung mengganggu komunikasi antara lain bahasa abstrak, inferensi, dikotomi, eufimisme, dan bahasa ekuivokal.

Isi Pesan Persuasif

Terdapat tiga tujuan pesan komunikasi persuasif, yaitu (1) membentuk tanggapan, (2) memperkuat tanggapan, dan (3) mengubah tanggapan.

Dalam proses pembentukan sikap dan tanggapan, persuader harus mampu mempertalikan antara gagasan atau produk baru dengan nilai-nilai yang telah melekat dalam sistem masyarakat atau sasaran. Penguatan tanggapan adalah terdapatnya kesinambungan perilaku yang sedang berlangsung saat ini terhadap beberapa produk, gagasan dan isu. Pengubahan tanggapan adalah perubahan tanggapan sasaran persuasi untuk mengubah perilaku mereka terhadap suatu produk, konsep atau gagasan.

Dalam komunikasi persuasif, menggayakan pesan merupakan aspek yang penting karena dapat “membungkus” pesan menjadi lebih menarik dan enak di “konsumsi”. Seorang persuader harus memiliki gaya perolehan perhatian yang mengesankan, yang dapat diperoleh dengan cara penggunaan bahasa yang jelas, luas dan tepat. Bahasa yang efektif mengandung tiga unsur, yaitu kejelasan, kelugasan, dan ketepatan.

Agar komunikasi persuasif berfungsi dengan baik dan efektif, maka dalam penyampaian pesan-pesan persuasi harus disertai dengan gaya yang mengesankan, menawan, dan tidak membosankan. Untuk itu, ada tujuh teknik yang bisa digunakan, yaitu omisi, inversi, suspensi, antitesis, repetisi, paralelisme, dan aliterasi.

Daya guna pesan persuasif dapat dilihat dari fungsi pesan itu sebagai (1) isyarat yang disampaikan, (2) bentuk struktural, (3) pengaruh sosial, (4) penafsiran, (5) refleksi diri, dan (6) kebersamaan.

Efek Komunikasi Tatap Muka sebagai Saluran dalam Komunikasi Persuasif

Saluran komunikasi adalah media yang digunakan untuk membawa pesan. Hal ini berarti bahwa saluran merupakan jalan atau alat untuk perjalanan pesan antara komunikator (sumber atau pengirim) dengan komunikan (penerima). Saluran memiliki tujuh dimensi yang memungkinkan untuk mengevaluasi efektivitas saluran yang berbeda. Dimensi-dimensi tersebut adalah kredibilitas saluran, umpan balik saluran, keterlibatan saluran, tersedianya saluran, daya tahan saluran, kekuatan multiguna saluran, dan kesalingmelengkapi saluran.

Komunikasi tatap muka berlangsung manakala persuader dan persuadee saling berhadapan muka, dan di antara mereka dapat saling melihat. Komunikasi tatap muka disebut pula komunikasi langsung (direct communication). Berdasarkan jumlah komunikan yang dihadapi komunikator, komunikasi tatap muka dapat diklasifikasi menjadi dua jenis, yakni komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok.

Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih secara fisik, yang semua indera berfungsi, dan umpan balik dapat secara langsung dilakukan.

Komunikasi persuasif dalam komunikasi tatap muka memiliki variasi situasi komunikasi. Paling tidak ada empat variasi situasi, yakni:
definition physical interdependence;
action-reaction interdependence;
interdependence of expectations empathy;
interaction.

Efek Interaksi Kelompok sebagai Saluran dalam Komunikasi Persuasif

Sejarah membuktikan bahwa manusia pada dasarnya cenderung untuk berkelompok. Manusia tidak bisa hidup secara individual. Ia selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Dalam suatu kelompok, paling tidak, terdapat tiga aspek, yakni kegiatan, interaksi, dan perasaan (sentiment). Konsep kelompok dapat dikaji dari berbagai aspek, seperti aspek persepsi, motivasi, tujuan, organisasi, interdependensi, dan interaksi. Dalam suatu kelompok, akan dijumpai berbagai proses, seperti persepsi, kebutuhan, interaksi, sosialisasi, struktur kelompok, dan adanya periode waktu tertentu.

Interaksi di dalam kelompok menimbulkan suatu energi yang membawa kelompok itu menjadi dinamis. Penggunaan energi kelompok dipengaruhi oleh group syntality atau kepribadian kelompok. Interaksi di dalam kelompok dapat membentuk variasi pola kelompok. Kelompok tersebut dapat berupa kooperatif, kompetisi, konflik, dan kelompok akomodasi. Afiliasi kelompok berperan penting dalam membentuk sikap, yang dapat mengapresiasikan sejumlah faktor penting, seperti hubungan kelompok primer, tekanan konformitas dari kelompok, hasrat untuk berbagi pengalaman dan informasi, serta kecenderungan dalam mengkaji siapa yang paling respek di antara anggota kelompok.

Referensi group adalah seseorang dalam setiap kelompok melakukan referensi atasnya. Seseorang menggunakan kelompoknya untuk mengukur dirinya, dan sebagai sumber bagi nilai-nilai sikap pribadinya. Ada dua fungsi kelompok referensi, yakni fungsi perbandingan sosial dan fungsi pengesahan sosial.

Sementara itu, efek persuasi dalam interaksi kelompok dapat dilihat dari dua aspek, yakni kepaduan (cohesiveness) dan konformitas (conformity).

Efek Media Massa dalam Komunikasi Persuasif

Pengertian media massa seringkali ditujukan pada peralatan teknik, yang digunakan dalam komunikasi massa. Jenis media massa bisa berupa media cetak, bisa pula elektronik.

Keberadaan media massa membutuhkan dua perkembangan, yakni:
adanya teknologi yang relatif maju;
melek huruf pada sebagian masyarakat yang memanfaatkan informasi.

Semakin tinggi status ekonomi seseorang, dan semakin besar komunitas di mana seseorang tinggal, maka semakin besar kemungkinannya ia menjadi pembaca surat kabar yang teratur. Media cetak mempengaruhi pembacanya untuk bertindak, ternyata lebih kuat jika dibandingkan dengan media elektronik. Televisi dapat mempengaruhi eksistensi suatu kebudayaan, medium untuk mentransmi-sikan pengalaman, mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan audiens, meningkatkan status sosial pemiliknya, berpengaruh terhadap penjadwalan kegiatan sehari-hari, dan menghilangkan perasaan serta menumbuhkan perasaan tertentu. Televisi pun dapat menimbulkan displacement effects, yang terdiri dari tiga prinsip, yakni kesamaan fungsional, kegiatan yang diubah, dan kegiatan yang marjinal.

Proses persuasi dalam TV merupakan suatu mekanisme proses belajar. Hal ini berkaitan dengan motivasi audiens. Radio, yang sifat khasnya auditif dapat mempengaruhi audiens dalam aspek kognitif, karena melalui radio, pengetahuan kita akan berubah.

Pengaruh media massa terhadap perilaku manusia banyak menarik minat peneliti komunikasi. Penelitian-penelitian tersebut telah menghasilkan banyak teori di antaranya The Bullet Theory, The Limited-Effects Model, Cultivation Theory, McLuhan’s Media Determinism, The Effect of Synthetic Experience, The Spiral Silence, Media Hegemony, The Powerful Effects-Model, dan lain-lain.

Teori-teori efek media massa yang ada, sering kali menunjukkan pertentangan yang cukup ekstrim. Di satu sisi mengatakan bahwa media massa itu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap berbagai aspek perilaku manusia, di sisi lain, justru tidak berdampak apapun.

Joseph Klapper berdasarkan hasil penelitiannya, ternyata mampu menjembatani pertentangan teori yang ada. Menurutnya, media massa berfungsi sebagai variabel antara untuk terjadinya perubahan perilaku manusia.

Prinsip Aktualisasi Diri

Diri atau self adalah suatu susunan konsep hipotetik yang merujuk pada perangkat yang kompleks dari karakteristik proses fisik, perilaku dan kejiwaan seseorang. Dimensi diri (self) terdiri dari lima aspek, yakni fisik diri, diri sebagai proses, diri sosial, konsep diri, dan citra diri.

Bagian masing-masing diri, satu sama lain saling tergantung, saling tumpang-tindih dan saling berkaitan. Proses penyesuaian diri yang kita lakukan merupakan bagian dari suatu konsep yang disebut Manajemen Kesan, yakni kebiasaan seseorang untuk menyesuaikan kata-kata dan perilakunya sedemikian rupa sehingga menghasilkan kesan yang diinginkannya dari orang-orang di sekitarnya, untuk membuat orang lain menyukai, menghargai, menghormati, atau apa saja yang diinginkan orang itu. Membentuk diri membutuhkan serangkaian proses, artinya hal itu berjalan terus-menerus tanpa henti dan tidak bersifat statis.

Konsep diri (self concept) merupakan pandangan dan perasaan kita tentang diri kita, yang bersifat psikologis, sosial dan fisik. Penghargaan mengenai diri kita masing-masing menentukan sampai batas tertentu bagaimana kita akan bertindak dalam hidup. Bila kita berpikir bahwa kita bisa, maka kita cenderung sukses, sebaliknya bila kita berpikir akan gagal, maka sebenarnya kita telah menyiapkan diri untuk gagal. Jadi konsep diri merupakan ramalan yang dipersiapkan untuk diri sendiri.

Dalam konsep diri terkandung dua aspek, yakni citra diri (self image) dan harga diri (self esteem). Konsep diri terdiri dari tiga dimensi, yakni pengetahuan Anda tentang Anda sendiri, pengharapan Anda mengenai diri Anda, penilaian tentang diri Anda sendiri.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri terdiri dari reaksi orang lain, perbandingan dengan orang lain, peranan seseorang dan identifikasi terhadap orang lain. Aktualisasi diri adalah suatu ekspresi yang bebas dan sempurna dari kemampuan dasar dan kemampuan taraf berikutnya, yang telah dimiliki seseorang. Ada dua macam dorongan untuk aktualisasi diri, yakni dorongan untuk mendapatkan kebutuhan positive regard dan dorongan untuk mendapatkan kebutuhan self regard.

Ada 15 karakteristik pribadi yang telah beraktualisasi diri, yakni penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain, persepsi yang akurat tentang kenyataan, keakraban dengan orang lain, otonomi pribadi, memusatkan diri sendiri pada masalah, spontanitas, privasi, kemandirian dari lingkungan dan kebudayaan, kesegaran dan apresiasi, pengalaman mistik, minat sosial, rasa humor yang filosofis, berkarakter demokratis, kreativitas, pemikiran yang jernih tentang yang salah dan benar, dan keterbukaan pada pengalaman.

Manusia secara tidak sadar menggunakan penyimpangan-penyimpangan kenyataan untuk melindungi dirinya dari kecemasan yang datang karena mengetahui adanya satu motif dasar yang muncul. Penyimpangan kenyataan ini disebut mekanisme pertahanan diri.

Bentuk-bentuk mekanisme pertahanan diri terdiri dari proyeksi, regresi, represi, reaksi formasi, intelektualisasi, rasionalisasi, dan sublimasi. Efek komunikasi persuasi ternyata berkorelasi dengan harga diri dan konsep diri seseorang. Pengenalan terhadap aspek-aspek kepribadian persuadee sangat penting dalam upaya menyusun strategi komunikasi.

Penerima dan Pengaruh Komunikasi Persuasi

Persuadee sebelum melakukan perubahan dirinya, sebenarnya melakukan suatu aktivitas yang fundamental, aktivitas yang sifatnya intern, di dalam diri, yakni belajar.

Belajar biasanya tidak hanya merupakan suatu proses sesaat. Setiap persuadee, menerima stimulus, menafsirkan, memberikan respon, mengamati akibat respon, menafsirkan kembali, memberikan respon baru, menafsirkan dan seterusnya. Hal ini dilakukan terus-menerus, sehingga persuadee mendapat kebiasaan memberikan respon dalam suatu cara tertentu terhadap suatu stimulus tertentu.

Ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan kekuatan kebiasaan, yakni (1) sering terjadi pengulangan respon yang mendapatkan ganjaran, (2) isolasi hubungan stimulus-respon, (3) jumlah ganjaran, (4) waktu antara respon dan ganjaran, dan (5) usaha yang dikehendaki untuk melakukan respon.

Persuadee tidak akan memberikan respon kecuali jika ia mengharap bahwa responnya akan menguntungkan. Pemahaman tentang konsep ganjaran, dapat dikaji melalui pemikiran Dewey tentang self interest.

Konsep pengaruh berawal dari asumsi yang dikemukakan oleh teori tentang tingkah laku manusia, yang menyatakan bahwa manusia bertindak di bawah ketegangan fisiologis karena adanya ambiguitas, dan ketiadaan bentuk, sehingga dengan demikian keinginannya untuk mempengaruhi adalah suatu keinginan untuk mengurangi ketegangannya sendiri, dengan mengurangi ambiguitas atau dengan mengurangi ketidakpastian tentang hakikat lingkungannya.

Secara fisiologis, indera keseimbangan memungkinkan persuadee untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisiknya. Secara psikologis, indera tersebut dapat menghasilkan keinginan untuk ketetapan struktur dalam pengamatannya. Akibat suatu respon tidak selamanya bersifat positif. Respon yang sama dapat pula menghasilkan akibat yang negatif.

Sikap dapat mempunyai fungsi yang berbeda bagi setiap individu. Paling tidak ada tiga fungsi sikap, yakni (1) fungsi pengetahuan, (2) fungsi ekspresi, dan (3) fungsi peningkatan harga diri.

Pengaruh komunikasi persuasif atas perubahan perilaku persuadee dapat dilihat dari dua pendekatan, yakni pendekatan tradisional dan pendekatan teori kognitif.

Persuasibilitas dapat diartikan sebagai kerentanan audiens terhadap pesan persuasi yang diterimanya. Istilah lain untuk persuasibilitas adalah communication-free persuasibility atau communication-bound persuasi-bility. Menurut Simons, terdapat banyak faktor yang berkaitan dengan persuasibilitas, di antaranya (1) usia dan jenis kelamin, (2) inteligensia dan tingkat pendidikan, (3) harga diri, (4) autoritarianisme dan dogmatisme, (5) struktur sikap, (6) kejelasan kognitif, dan (7) penghin-daran-peniruan.

Teknik-teknik Komunikasi Persuasif

Untuk menguasai teknik persuasi, faktor-faktor yang diperlukan antara lain sebagai berikut. (1) Mampu berpikir dalam kerangka acuan yang lebih besar untuk penggunaan teknik yang tepat dalam suatu keadaan tertentu. (2) Mampu menegakkan kredibilitas. (3) Mampu berempati. (4) Mampu menunjukkan perbedaan dengan sasaran. (5) Mampu mengetahui saat-saat yang tepat untuk menggiring audiens pada pesan yang diberikan. (6) Mampu mengetahui kapan alat bantu komunikasi digunakan, dan lain-lain.

Persuasi merupakan tindakan memanipulasi simbol untuk menghasilkan perubahan melalui “tingkah laku evaluatif” dan “tingkah laku pendekatan-penghindaran” atau “sikap”.

William S. Howell mengetengahkan sepuluh teknik persuasi sebagai berikut. (l) The yes-response technique. (2) Putting it up to you. (3) Simulated disinterest. (4) Transfer. (5) Bandwagon technique. (6) Say it with flower. (7) Don’t ask if, ask which. (8) The swap technique. (9) Reassurance. (10) Technique of irritation.

Charles Larson mengemukakan tujuh teknik dalam komunikasi persuasi, seperti berikut ini. (1) The Yes-yes technique. (2) Don’t ask if, ask which. (3) Answering a question with questions. (4) Getting partial commitment. (5) Ask more, so they settle for less. (6) Planting. (7) Getting an IOU.

Werner J. Severin dan James W. Tankard (1992) mengemukakan tiga teknik persuasi, yakni: (1) appeals to humor, (2) appeals to sex, dan (3) extensive repetition of an advertising message.

Strategi Komunikasi Persuasif

Strategi adalah rencana terpilih yang bersifat teliti dan hati-hati atau serangkaian manuver yang telah dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam mempertimbangkan strategi komunikasi persuasi yang akan diterapkan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. (1) Spesifikasi tujuan persuasi. (2) Identifikasi kategori sasaran. (3) Perumusan strategi persuasi. (4) Pemilihan metode persuasi yang diterapkan.

Komunikasi persuasif, paling tidak, memiliki tiga tujuan, yakni membentuk tanggapan, memperkuat tanggapan, dan mengubah tanggapan.

Secara umum, sasaran persuasi dapat diidentifikasi berdasarkan umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, keanggotaan dalam kelompok primer, dan minat khusus sasaran. Selain itu, dapat pula dilihat dari aspek sasaran pedestrian, sasaran pasif dan kelompok diskusi, sasaran terpilih, sasaran kesepakatan, dan sasaran terorganisasi.

Langkah-langkah dalam perumusan strategi komunikasi persuasif antara lain: (1) pengumpulan dan analisis data, (2) analisis dan evaluasi fakta, (3) identifikasi masalah, (4) pemilihan masalah yang ingin disampaikan dan dipecahkan, (5) perumusan tujuan, (6) perumusan alternatif pemecahan masalah, (7) penetapan cara mencapai tujuan, (8) evaluasi hasil kegiatan, dan (9) rekonsiderasi.

Prinsip-prinsip dalam merumuskan strategi komunikasi persuasi yang perlu diperhatikan adalah: (1) prinsip identifikasi, (2) prinsip tindakan, (3) prinsip familiaritas dan kepercayaan, dan (4) prinsip kejelasan.

Prinsip-prinsip metode persuasi sebagai landasan untuk memilih metode yang tepat dan baik yang perlu diperhatikan adalah (I) pengembangan untuk berpikir kreatif, (2) persuasi dilakukan pada tempat kegiatan sasaran, (3) setiap individu terikat pada lingkungannya, (4) harus dapat menciptakan hubungan yang akrab dengan sasaran, dan (5) harus dapat memberikan sesuatu untuk terjadinya perubahan.

Dalam memilih metode persuasi, ada tiga pendekatan yang bisa dilakukan, yakni pendekatan berdasarkan media yang digunakan, sifat hubungan antara persuader dan sasarannya serta pendekatan psikososial.

Strategi persuasi psikodinamika dipusatkan pada faktor emosional dan atau faktor kognitif. Salah satu asumsi dasarnya adalah bahwa faktor-faktor kognitif berpengaruh besar pada perilaku manusia. Esensinya bahwa pesan yang efektif mampu mengubah fungsi psikologis individu dengan berbagai cara sehingga sasaran akan merespon secara terbuka dengan bentuk perilaku seperti yang diinginkan persuader.

Asumsi pokok dari strategi persuasi sosiokultur adalah bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh kekuatan luar dirinya. Esensi strategi ini adalah bahwa pesan harus ditentukan dalam keadaan konsensus bersama.

Asumsi dasar strategi persuasi the meaning construction adalah bahwa pengetahuan dapat membentuk perilaku. Strategi ini dicirikan oleh “belajar-berbuat (learn-do)”.

Hambatan dalam Komunikasi Persuasif

Pada umumnya, hambatan komunikasi dapat diselesaikan oleh dua faktor, yakni faktor mekanistis komunikasi manusia dan faktor psikologis. Selain itu, hambatan tersebut dapat diselesaikan oleh dogmatisme, stereotipe, dan pengaruh lingkaran. Kondisi itu pun dapat pula disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat berupa persepsi sosial, posisi sosial, dan proses sosial, sedangkan faktor eksternal dapat disebabkan oleh faktor penguatan (reinforcement) dan faktor harapan yang diinginkan.

Citra (image) persuader dalam komunikasi persuasif sangat menentukan dalam mengubah, membentuk dan memperkuat sikap, pendapat dan perilaku sasaran sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Citra persuader berbanding lurus dengan kredibilitasnya.

Persuader dalam melakukan komunikasinya, akan dihadapkan pada masalah sikap, nilai, dan kepercayaan sasaran yang bertentangan.

Sasaran yang dihadapi persuader dalam menerima pesannya tidak semata menggunakan pikiran yang logis saja. Mereka kadangkala menggunakan perasaan, keinginan, serta pilihan-pilihannya untuk mengambil keputusan. Mereka kadang-kadang bersikap apatis atau skeptis.

Prosedur Umum Analisis Komunikasi Persuasif
Analisis adalah pengidentifikasian dan pemeriksaan komponen-komponen objek yang sedang dikaji. Analisis masalah komunikasi persuasi adalah pemeriksaan terhadap isi pesan, tujuan, dukungan sasaran dan konteks sosial.

Dalam memilih topik persuasi, karena cakupannya luas dan beragam, maka hal-hal yang perlu dijawab adalah topik apa, dalam bentuk apa, persuasi siapa, ditujukan kepada siapa, serta kapan persuasi itu dilakukan. Tujuan analisis persuasi adalah untuk memperoleh informasi tentang kualitas dari pelaksanaan komunikasi persuasif baik dalam bentuk komunikasi lisan maupun tulisan.

Metode analisis persuasi yang digunakan disesuaikan dengan tujuan analisis yang telah ditetapkan. Metode yang dapat digunakan antara lain metode deskriptif, eksploratif, eksplanatori, dan metode-metode khusus, seperti message centered analysis, causal analysis, evaluative criticism, dan theory-oriented analysis.

Untuk menganalisis masalah-masalah persuasi, dapat digunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis kualitatif dilakukan dengan pembentukan serta menghubungkan kategori-kategori berdasarkan kejadian-kejadian atau pengamatan. Berdasarkan hubungan kategori yang terjadi, maka dibuat hipotesis-hipotesis tentang kategori-kategori yang dihubungkan, memunculkan teori berdasarkan hubungan hipotesis yang diperoleh. Teknik analisis kuantitatif dilakukan dengan cara menggunakan tes statistik yang relevan.

Untuk menganalisis presentasi persuasif sendiri, dapat dilakukan dengan cara memeriksa komponen-komponen tujuan, sasaran, materi dukungan, pemikiran, pola organisasi, bahasa, dan alat bantu multimedia.

Penulisan hasil analisis persuasi pada prinsipnya sama seperti penulisan karya ilmiah lainnya, yang mencakup judul analisis, pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan dan identifikasi, tujuan analisis, kegunaan, tinjauan pustaka, metode analisis yang memuat metode, operasionalisasi variabel, validitas dan reliabilitas alat ukur, populasi dan teknik sampling, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data, hasil analisis dan pembahasan, serta simpulan dan rekomendasi.

Prosedur Umum Analisis Komunikasi Persuasif

Tujuan analisis komunikasi persuasif periklanan adalah untuk melakukan pengidentifikasian dan pemeriksaan terhadap pesan, isi, tujuan dukungan, dan konteks sosial dari suatu iklan.

Merk dagang, kemasan, slogan, promosi, dan bentuk-bentuk pesan merupakan konsep-konsep utama dalam periklanan. Analisis komunikasi persuasi periklanan dapat diklasifikasi menjadi dua bagian, yaitu analisis identifikasi masalah dan analisis untuk pemecahan masalah.

Proses analisis komunikasi untuk periklanan adalah serangkaian kegiatan atau tahap yang dilakukan dalam melaksanakan analisis komunikasi persuasif periklanan. Masalah-masalah komunikasi persuasif periklanan dapat berasal dari sumber, saluran, pesan, media, sasaran, lingkungan sosial budaya, serta efek dan dampak periklanan.

Untuk memperoleh kerangka pemikiran yang jelas dan menyeluruh, maka diperlukan dukungan kerangka teoretis yang dapat menjelaskan semua pengertian dan definisi. Rancangan analisis merupakan kerangka untuk melaksanakan analisis. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam analisis komunikasi persuasi periklanan karena melalui analisis data, data yang telah dikumpulkan dapat diberi arti serta berguna untuk menjawab pertanyaan analisis secara keseluruhan.
Sumber buku Komunikasi Persuasif Karya Soleh Soemirat, H. Hidayat Satari, Asep Suryana

PERANAN FISIOTERAPI DALAM GANGGUAN PERKEMBANGAN ANAK


Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu bergerak, yang menunjukkan bahwa dia ada, berubah, berpindah, dan berkomunikasi.
Arti bergerak secara umum adalah berubahnya satu bagian atau seluruh tubuh untuk mengerjakan sesuatu dengan tujuan tertentu. Sedangkan arti bergerak secara khusus adalah adanya kerjasama antara otak, saraf, otot, tulang dan sendi yang disebabkan adanya stimulasi dari luar melalui indera tubuh untuk mengerjakan sesuatu dengan tujuan tertentu.
Pergerakan seseorang bisa dikatakan normal bila gerakan tersebut mempunyai nilai kekuatan normal serta mempunyai makna dan tujuan tertentu.

DEFINISI FISIOTERAPI
Fisioterapi berasal dari kata f isik dan terapi. Fisik yang dimaksud ialah tubuh dan anggota geraknya. Terapi berarti memulihkan.
Jadi f isioterapi ialah pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh.

RERAN FISIOTERAPI
Setiap manusia mengalami apa yang namanya tumbuh dan berkembang. Tumbuh kembang sendiri memiliki asas, yaitu :
• Berlangsung terus menerus sejak pembuahan sampai dewasa yang
dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan.
• Tumbuh kembang bergantung pada kematangan (maturitas) sistem saraf.
• Urutan tumbuh kembang setiap individu selalu sama, tetapi kecepatannya
berbeda antar individu satu dengan lainnya.
• Refiek primitif akan hilang dan digantikan dengan gerakan yang disadari.
• Arah tumbuh kembang dimulai dari atas ke bawah (chepalocaudaf).

Di dalam tubuh manusia terdapat kapasitas fisik dan kemampuan fungsional. Fisioterapi bertanggung jawab terhadap kapasitas fisik dan kemampuan fungsional tersebut.

Kapasitas fisik berupa
• Tonus otot
• Kekuatan otot
• Luas gerak sendi

Kemampuan fungsional berupa
Tidur miring
Berguling
Merayap
Merangkak
Duduk
Berdiri

Apa yang dilakukan oleh fisioterapi terhadap macam-macam gangguan dalam tumbuh kembang anak di atas ?
• Pemberian massage guna merileksasikan atau meningkatkan tonus otot.
• Pemberian latihan aktif berupa aktivitas permainan.
• Meningkatkan head control don control postural.
• Memberikan penguluran (stretching] atau pengaturan posisi agar suatu otot
beda dalam posisi memanjang (elongation] pada otot yang mengalami pemendekan atau yang potensial untuk terjadi pemendekan.
• Menghambat ref lek primitif yang masih ada.
• Memberikan latihan weight bearing.
• Menstimulasi perkembangan anak.
• Mengkoreksi postur
• Mengkoreksi pola jalan anak.