Kamis, 09 April 2009

I Love U SoMad

Penulis : Boim Lebon



SUER.

Somad bukan cowok yang masuk itungan. Di kelas 2 IPS 3 nyaris nggak dianggap. Orangnya lugu. Potongan rambutnya seadanya. Jangan-jangan dia motong rambut sendiri lagi? Pokoknya out of date banget, deh!

Tapi anehnya kok ya aku nggak bisa menghilangkan bayangan Somad begitu aja. Aneh bin ajaib. Apa dia punya ilmu pelet sehingga aku jadi sering merhatiin dia?

Eh, tapinya terus terang aku merhatiin cowok lugu itu diam-diam, karena kalo sampai ketahuan wah, bisa gempar sekolah ini! Bahkan seluruh sekolah di selatan Jakarta ini.


Bayangin aja, aku kan pernah jadi finalis cogirl, terus pernah ikutan syuting sinetron, ya meskipun perannya nggak banyak tapi wajahku bisa dijadikan patokan kalo aku ini lumayan kece… bur got! Hehehe.

Tapi suer, makanya jangan heran kalo banyak anak cowok berkelas di sekolah ini yang ngejar-ngejar aku. Tapi ya itu tadi, kenapa aku malah sering-sering merhatiin Somad, seeh? Aneh!



***



SUMPE LUH!

Orang nggak percaya kali ya kalo aku nggak pengin pacaran dulu! Aku bahkan berani bersumpah nggak bakal pacaran selagi SMA! Makanya aku sama sohibku, yang namanya Ririn, jadi klop banget.

Tapi… ya itu tadi, sumpah anak ABG, boleh dibilang cuma jadi sumpah-sumpahan aja. Begitu juga dengan Ririn. Waktu kelas satu, menjelang naik-naikan kelas dua, ada anak cowok kelas tiga yang emang udah kesohor di sekolahan, namanya Jacko. Aslinya sih Joko Sutanto, tapi lama kelamaan berubah menjadi Jacko!

Si Jacko ini kalo dibandingin sama Somad kaya siang dan malam. Yang jelas Jacko ini anak orang kaya, ke sekolah boil-nya gonta-ganti. Emang, sih, kendaraan itu semua punya bokap-nya tapi paling nggak kan nanti-nantinya bakal nurun juga ke dia. Yang jelas semua cewek bertekuk lutut, deh!

Termasuk diriku yang sebelumnya pernah bersumpah nggak mau pacaran. Bahkan aku ama Ririn sepakat nggak bakalan kecantol ama si Jacko yang udah ketahuan sering jalan ama cewek-cewek, baik dari sekolah ini maupun dari sekolah lain!

Awalnya memang Ririn duluan yang luluh, ketika dia didekati Jacko dan katanya Jacko suka ama dia dan ujung-ujungnya Ririn pun nggak berkutik. Aku juga kaget.

“Jadi lo jadian ama dia?”

Ririn ngangguk. Waduh.

“Kok bisa?”

“Enggak tau, aku sebetulnya udah nolak, tapi dia mendesak terus dan akhirnya aku juga nggak bisa apa-apa…”

Ya, amplop!

Lama kelamaan aku juga suka merhatiin Jacko yang kalo dilihatin emang cakep, ibunya Jawa dan bokap-nya turunan Portugis. Jadi, biar Jawa tapi rada bule-bule gitu.

Eh, ini dia yang bikin runyem, karena tiba-tiba Jacko juga bilang suka sama aku.

“Eh, bukannya kamu sudah jadian sama Ririn?” tanyaku heran, tapi senang.

“Kayanya kami nggak cocok,” jawab Jacko, pendek.

“Tapi nggak bisa, aku nggak mau pacaran dulu…”

“Lho, kita nggak pacaran, cuma bersahabat aja kok. Kalo aku mau curhat ada yang mau dengerin, kalo aku mau jalan ada yang nemenin. Itu aja kok.”

“Eh, ya kalo begitu….”

Dan ternyata mereka bukannya nggak cocok lagi, tapi Jacko telah berhasil menduakan kami! Benar-benar brengsek! Bayangin aja, aku dan Ririn dijadiin ceweknya sekaligus!

Tentu saja hubunganku dengan Ririn jadi renggang. Karena entah kenapa, aku jadi berusaha untuk bisa menguasai Jacko sepenuhnya.

“Aku nggak mau kamu lepas dari diriku…,” kataku. “Dan aku nggak mau kamu curhat ke orang lain!”

Ternyata begitu juga dengan Ririn yang sudah jatuh cinta banget sama Jacko.

Hm, ternyata Jacko bagi kita berdua adalah first love, sedangkan bagi Jacko, nggak taulah…!

Dan malapetaka mulai terjadi ketika Jacko mulai kecantol cewek lain. Aku dan Ririn mulai jarang dapat perhatian lagi. Bahkan Ririn terkadang suka nekat melabrak Jacko, tapi itu tidak membuat Jacko kapok. Akibatnya Ririn jadi gampang frustasi.

Aku juga jadi lunglai.

Yang bikin aku kaget adalah ketika aku dengar Ririn katanya sudah pernah menginap di hotel barengan Jacko. Astagfirullah!

Dan ujung-ujungnya Ririn mulai mudah termenung. Aku sering memperhatikannya, dan besoknya aku dapat informasi lagi kalo Ririn sudah mulai merokok! Ya, Allah!



***



BENERAN!

Ririn sohibku yang baik. Aku tahu karakter dia. Kenapa dia bisa berubah seperti itu?

Aku berusaha gentle. Aku mendatangi Ririn yang sebelumnya sudah menutup buku denganku. Karena aku sudah mendengar berita Ririn sering bolos, aku dekati Ririn untuk memulai hari baru dan melupakan masa lalu bersama cowok brengsek itu.

Ririn membuka tangannya.”nanti gue tunggu di kantin.”

Aku kaget melihat Ririn menantiku sambil menghisap batang sigaret.

“Elo sekarang merokok, Rin?” tanyaku, terperangah.

Ririn tersenyum.

Seseorang membisikkanku di telinga, katanya Ririn juga sudah mulai mengonsumsi obat-obatan terlarang.

“Kenapa sih lo?” tanyaku betul-betul kaget.

“Gue kecewa?” kata Ririn sambil mengebulkan asap rokok dari mulutnya. “Dia ngebohongin gue!”

“Tapi kan dia ngebohongin gua juga? Bahkan mungkin telah menipu beberapa cewek lain!”

“Iya, gua tau, maka dari itu sebetulnya gue tuh kecewa bukan cuma ama dia aja, tapi ama semuanya! Ya, ama diri gue juga, kenapa kok udah tau cowok kayak begitu masih saja gue terima! Lo tau kan, kita udah sepakat nggak bakal melirik dia, eh malah kita berdua jadi korbannya! Akibatnya hubungan kita jadi berantakan, bahkan musuhan segala!”

“Iya, ya. Kenapa kita jadi bego begini?” aku geleng-geleng kepala.

“Terkadang yang sekarang gue pikirin cuma satu, gue pengin mati aja!”

“Eh, gila lo ye. Jangan gitu, dong! Lo harus tegar!”

“Gue malu. Maluuu banget! Gue pengin pindah sekolah, tapi nggak mungkin. Pasti nyokap gue nggak setuju dan dia bakalan tau kondisi anaknya yang udah menjadi kacau seperti ini!”

“Tenang Rin, lo harus tenang…!”

Sejak saat itu, kantin pojokan jadi tempat favorit buat kami berkeluh-kesah, dan gobloknya lagi, kok aku jadi ikut-ikutan merokok juga!

“Bisa buat ngusir stres, nih.”

“Masa, sih?”

“Coba aja.”

Kami mencari tempat paling pojok dan ngerokok di sana. Dan anehnya tempat itu jadi tempat berkumpulnya orang-orang frustasi. Malahan sebagian anak menjuluki beberapa anak yang suka berada di tempat itu sebagai korban Jack-gatte!

Yang jelas, benar kata pepatah yang mengatakan; kalo main api, kepanasan, kalo main air, kebasahan. Begitu juga kalo kita banyak ngobrol sama anak-anak nggak benar. Nggak usah nunggu lama, deh, yang namanya rokok, ganja, obat-obatan, shabu, putau, dan lainnya jadi nggak asing lagi. Begitu juga dengan kami berdua, yang tadinya cuma dengar-dengar aja, nggak tahu kenapa jadi enteng aja untuk mencoba itu semua!

Tiap pulang sekolah, kami berdua janjian untuk menikmati obat-obatan terlarang. Rumah Ririn sering kosong. Nyokap-nya yang single parent itu banyak bisnisnya.

“Eh, bener, stres jadi ilang!” kataku.

“Bukan cuma stres yang ilang, pikiran kita juga bisa ilang!” saut Ririn sambil nyengir.

Kami berdua memang sudah bisa melupakan Jacko yang handsome dan selalu ‘tepe’ (tebar pesona) itu. Tapi kok sekarang jadi nggak bisa ngelupain obat-obatan? Hampir tiap hari pasti ada aja yang nawarin ke kami.

“Mau nggak lo? Gratis, nih! Yang penting lo hepi gue hepi!”

Sampai kemudian Ririn sakit dan dibawa ke dokter oleh mamahnya. Dan mamanya marah banget begitu tau kalo anaknya jadi pecandu. Bahkan mamanya akan memindahkan Ririn ke sekolah lain dan mencap sekolah itu menjadi sekolah buruk!

Padahal sekolahan sih tetap baik, tapi anaknya aja yang lagi nggak benar. Dan lebih buruk lagi, adalah ketika Mama Ririn menuduhku sebagai biang keladi dari perubahan karakter Ririn! Aku kaget sekali, dan kaget lagi ketika Mama Ririn juga mengancam akan lapor pada polisi.

“Awas kalo kamu mendekati Ririn lagi!”

Duh, aku menjadi takut. Gimana kalo aku diperiksa, disuruh tes urin, terus ketahuan aku juga pernah mengonsumsi benda-benda terlarang, dan kemudian ditangkap di penjara? Hiiih, bulu kudukku berdiri!

Aku langsung bertekad untuk tidak lagi mengonsumsi barang-barang itu, tapi anehnya susah banget. Biarpun Ririn sudah nggak ada, aku masih saja dapat jatah dari beberapa anak kelas tiga yang memang suka menawarkan benda-benda itu di sekolah.

Sampai akhirnya Mama Ririn betul-betul memanggil pihak berwajib untuk memeriksa teman-teman dekat Ririn, dan aku yang kebetulan membawa satu sachet obat terlarang, sangat ketakutan.

Keringat dingin langsung keluar. Kebetulan Mama Ririn datang pas jam istirahat, sehingga aku bisa sembunyi di kamar mandi, lalu mengunci pintunya dari dalam.

Tadinya aku ingin membuang saja obat-obat itu ke dalam kloset, tapi aku merasa sayang dan akhirnya aku minum semuanya! Dan apa yang terjadi sodara-sodara, aku langsung OD (over dosis)! Aku pun terkapar dengan mulut berbusa di kamar mandi!



***



HONESTLY.

Pagi itu Somad seperti biasa datang pagi-pagi. Aku kebetulan memang sudah ada di situ. Dan biarpun dia langsung mengeluarkan buku catatannya dan menulis-nuliskan sesuatu, aku senang mencuri-curi pandang kepadanya, yach meskipun dia juga nggak membalas pandanganku …, aku sih cuek aja.

Jujur aja, kalo dilirik orang sih aku sering, tapi melirik orang jarang-jarang lho. Seperti sudah aku bilang, kepada Somad kok jadi lain? Tapi aku tetap nggak berani bilang ke siapa-siapa kalo aku sekarang mulai senang melempar lirikan ke Somad.

Ya, akhirnya aku memang suka sama Somad. Dia seperti batu karang di tengah lautan yang tidak terpengaruh oleh ombak besar. Dia tetap sama menjadi out of date diantara kemoderenan yang hadir menggelora di tengah-tengah sekolahku.

Dia tetap saja suka ke musala, mengerjakan salat, atau kemudian bikin acara-acara keagamaan meski seringkali diejek dan tidak diminati sama sekali. The Somad must go on!

Pernah dia bikin acara di tengah lapangan basket, tapi kelihatan yang sibuk cuma panitianya aja, yang datang juga mereka-mereka aja, tapi aku lihat Somad tetap semangat!

Beda waktu Jacko bikin acara musik, wah, satu lapangan penuh! Satu sekolahan ikut membantu! Dan anehnya Somad waktu itu, nggak terpengaruh, tuh! Dia terus saja ke musala! Diam-diam aku salut padanya.

Dan rasanya sikap seperti itu harus aku tiru biar aku juga punya ketegaran yang kuat!

Ada keinganku untuk bergaul dengan Somad, tapi anehnya kok ya nggak berani. Aku ingin bergaul dengan komunitasnya, tapi kok merasa malu? Apalagi sekarang, udah jelas nggak bisa!

Terkadang aku juga memperhatikan Jacko yang masih aja nggak berubah. Dia punya gank yang terdiri dari cowok dan cewek keren. Aku, meskipun pernah jadi pacarnya, nggak pernah disapanya lagi.

Aku dianggapnya sebagai lalat yang pernah hinggap di pundaknya yang dengan mudahnya ia usir begitu saja. Luar biasanya, kenapa bisa ada manusia seperti itu? Dan bodohnya lagi, kenapa aku juga mau menjadi seekor ‘lalat’?

Kini aku hanya bisa sendiri memperhatikan itu semua. Ririn sudah tidak ada lagi. Entah sekolah di mana dia sekarang. Tapi aku berharap dia sudah berubah, menjadi Ririn yang dulu lagi.

ALHAMDULILLAH.

Bel pulang berdentang. Anak-anak pun pulang.

Aku lihat Somad juga siap berkemas. Aku memperhatikannya sampai dia keluar pintu kelas.

Sekolah mulai sepi. Aku tetap sendiri di sini. Aku tidak bisa ke mana-mana, entahlah kenapa tempat itu menjadi melekat olehku. Aku dengar dia ingin mengumpulkan siswa yang sering ke musala untuk menyumbangkan sebuah doa … entah untuk siapa?

Tapi katanya untukku? Masa, sih? Mereka mau berdoa untukku? Oh, luar biasa, aku jadi semakin sayang sekali pada Somad. Sungguh, I Love You Somad, I Love You Su Much!

Aku janji, seandainya saja mereka mengetahui bahwa aku mulai sering memperhatikan Somad, aku tidak akan malu lagi, dan aku berharap bisa bergaul sama sahabat-sahabatnya, tapi sayang kini aku sudah…ah, aku tak kuasa … menceritakan ini semua pada kalian…

Yang teringat olehku hanyalah ketika terkapar di kamar mandi itu, aku melihat samar-samar pintu dibuka paksa, dan aku lihat Somad masuk, sementara aku melihat yang lain berteriak, berlari dan menjauh, sementara Somad berusaha menggotongku ke ruang UKS.

Somad berusaha menyadarkanku, tapi rupanya obat yang aku telan terlalu banyak dan akhirnya …. Oh, entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya pada diriku di alam kehidupan lain yang hingga kini masih gamang aku jalani….

Oh, Tuhan bisakah dosaku Kau maafkan?



***



Muharram 1426 H











Diambil dari buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama.

Pengarang: Boim Lebon, dkk.

Penerbit: FLP.

0 komentar: