Jumat, 03 April 2009

Suamiku

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang terkadang tak pantas disebut lelaki. Kami bertemu dua tahun silam dalam masing-masing pencarian eksistensi dan pemuasan kebutuhan. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang selalu siap menyetubuhiku setiap malam, seperti ia setubuhi empat perempuan lain sebelumku.

“Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu ?” tanyaku suatu malam padamu.
Sambil tersenyum dirimu berkata, “Aku tak tahu.“
Ah, jawabanmu terlalu singkat dan tak bisa dipertanggungjawabkan.
“Mungkin karena ini,“ ucapmu sembari menunjuk kelaminmu sendiri begitu melihatku terdiam.

“Mungkin saja,” jawabku mengakhiri pembicaraan kita malam itu.

Lalu nafsu mengambil alih perjalanan hidup kita menghabiskan separuh malam itu di kamar yang sama sejak pernikahan kita. Bau khas dari perpaduan kelamin kami adalah aroma malam yang kuhirup mengakhiri persenggamaan kami. Keringat dan mani membasahi seprei yang baru saja kuganti sore tadi. Tak pernah ada yang berubah dari kelamin suamiku. Terkapar di atas tubuhku dan kembali mendengkur. Lelah dan nikmat jadi irama nyenyak tidurnya.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang terkadang pantas disebut lelaki. Kami bertemu dua tahun silam dalam masing-masing kesepian dan kekosongan. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang menyetubuhiku malam ini, seperti ia setubuhi empat perempuan lain sebelumku.

“Bagaimana mungkin kau bisa mencintaiku?” tanyamu malam itu padaku.
Dengan tersenyum aku berkata, “Karena aku membutuhkanmu.“

“Hm,” kau mendesah lalu terdiam. “Mungkin saja,“ lanjutmu mengakhiri kalimat alfabetmu dan menggantinya dengan bahasa tubuh yang mulai kusuka sejak pertemuan pertama kita.

Sentuhan halus pada genitalku, bulu halus dada suamiku menggelitik punggungku. Erangan tertahan dan kecupan bertubi-tubi kurasa bagai anak panah peperangan yang harus kumenangkan saat itu. Kelaminmu tertawa dan mencumbu gairah peperangan dalam hasratku.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang penuh keinginan dan permainan. Kami bertemu dua tahun silam sebagai atasan dan bawahan. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang selalu ingin bersetubuh dengan empat perempuan berbeda lain sebelumku.

“Bagaimana mungkin kau bisa memilihku ?” tanyaku di malam lain padamu.
Sambil tersenyum dirimu berkata,“ Aku memilihmu karena aku butuh pasangan yang bisa membantuku menaklukkan kota ini.“ Aku terdiam dan mulai menyadari arti diriku saat itu bagimu.
“Mungkin juga karena itu,“ ucapmu sembari menunjuk kelaminku lalu membelai rambutku.

“Mungkin saja,” jawabku mengakhiri pembicaraan kita malam itu.

Seperti malam lain kita bersenggama dan melupakan sejenak pembicaraan di kamar yang sama sejak pernikahan kita. Aku berlari ke kamar mandi memandangi kelaminku yang tak lagi dapat menampung cairan kelamin suamiku. Tak ada yang berubah dari kelaminku seperti halnya kelamin suamiku. Kelamin-kelamin kita tertawa dan menyusun janji untuk persenggamaan berikutnya.

Masih di ranjang yang sama, langit-langit seakan menjadi mata bisu yang setia menyaksikan persenggamaan kelamin-kelamin kami. Malam kami tinggalkan dengan sunggingan senyum di bibir dan berlayar ke alam mimpi.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang penuh egoisme dan ambisi. Kami bertemu dua tahun silam dan menjadi sepasang kekasih. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang menyetubuhiku dan berhenti menyetubuhi empat perempuan lain sebelumku

“Kini aku tahu kenapa aku membutuhkanmu,” ucapku padamu malam tadi. “Hm,” kau mendesah lalu terdiam.

“Aku tahu kenapa aku mencintaimu,“ lanjutku.

“Beritahu aku,“ jawabmu.
“Aku mencintai seorang lelaki yang kini belajar menjadi lelaki,” jawabku mengakhiri kalimatku.

Tapi malam tadi kita tidak bersenggama seperti biasanya hanya bertatapan dan berpelukan hingga kantuk terasa. Kelamin-kelamin kita saling berbisik dan hanya saling bertatapan. Tersenyum mengenang ritual persenggamaan kita di malam lalu.

“Lelap tidurmu, Sayang,“ gumamku dihati memandangmu yang kini terbaring dalam pelukan mimpi.
“Betapa aku masih mencintaimu, sama persis ketika pertama kali aku mulai merasa dan menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu,“ bisikku di telingamu.

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang kini menjadi lelaki. Kami bertemu dua tahun silam dan saling mencintai. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang hanya dan hanya mau menyetubuhiku bukan empat perempuan lain sebelumku

0 komentar: